"Tapi kebetulan saat itu tidak ada satu pun pembeli datang, dan dia semakin menjadi-jadi," katanya.
Suaminya semakin kalap dan membawa gunting yang tergeletak di laci gerobak bakso, lantas pelaku memegang bagian lancip gunting agar bibir gunting tak mengenai langsung ke muka Tini karena terhalang oleh kepalan tangan pelaku.
Lantas, pelaku mulai menikam-nikamkan gunting itu ke arah wajah Tini sambil tangan satunya lagi mencekik leher Tini. Beruntung kala itu, keponakan Tini datang melerai dan Tini pun diamankan oleh keluarganya.
Namun, kelakuan suaminya tetap saja tak berubah dan terus mengganggu Tini. Merasa semakin tidak aman akhirnya Tini meminta pendampingan kepada Yayasan Sapa Institute.
Bersama anak bungsunya berusia 11 tahun, Tini nekat pergi dari kampungnya sekitar pukul 02.00 WIB, dini hari. Ia meminta agar bisa tinggal sementara di rumah aman Yayasan Sapa, sambil mengurus proses perceraian.
"Kalau nggak dibantu Sapa, saya mikirnya waktu itu mau tinggal aja terus di Polsek," bebernya.
Wajahnya sempat berkaca-kaca, sejurus kemudian air mata pun meleleh membasahi pipinya. Kedua tangannya spontan mengambil bagian kerudung yang ia kenakan dan menyeka bagian pipinya yang kuyup digenangi air mata.
Ia mengenang kejadian buruk yang pernah dialaminya. Seketika, Sugih Hartini—pendamping dari Yayasan Sapa—yang duduk tepat di samping Tini, memeluknya dan mengusap-ngusap lengan Tini.
Lebih jauh, Sugih menceritakan perjuangan Tini menjalani proses persidangan cerainya. Persidangan tidak berjalan mulus. Dua kali sidang berujung dengan hasil mengecewakan alias berujung mediasi lantaran pelaku enggan menceraikan Tini.
Baca Juga: Suami Siram Istri Pakai Air Keras karena Cemburu Sering Main TikTok
Pada persidangan ketiga, ucap Sugih, selain didampingi Yayasan Sapa, Tini didampingi pula oleh LBH Tohaga. Alhasil, Pengadilan Agama Kabupaten Bandung pun mengabulkan gugatan cerai Tini.
"Sebelum resmi bercerai, beberapa kali dilakukan mediasi di desa, tapi ternyata suami si ibu tetap tidak berubah, sampai pihak Desa juga sudah merasa tidak dihargai," kata Sugih.
Kisah Lain Korban KDRT
Tindakan kekerasan pun dialami oleh Indah, 30 tahun—tentunya bukan pula nama sebenarnya. Suaminya kerap kali mengintimidasi hingga melakukan pemukulan terhadap Indah.
Kebiasaan buruk suaminya yang kecanduan obat-obatan terlarang, seringkali berujung pada tindakan kekerasan yang diterima Indah di depan anak-anaknya.
Selain itu, efek pandemi yang membuat usaha suami anjlok membuat kehidupannya semakin kacau. Indah tinggal di rumah mertuanya. Suami dan mertuanya menjalankan usaha berupa menyuplai kaus kaki di sekitaran Bandung Raya.
Saat keuangan semakin menipis, efek candu obat-obatan tidak ikut menipis malah justru menebal, masalah pun terus menerus terjadi.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Selundupkan 1.689 Burung Liar ke Jakarta, Bus Sinar Jaya Dicegat di Pelabuhan Bakauheni
- KPU Bisa Tindaklanjuti Putusan MK dengan Menyatakan Syarat Pendidikan Gibran di Pilpres 2024 Tak Sah
- Rekonsiliasi Politik, Anies Baswedan Jadi Menteri Prabowo?
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
Pilihan
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
Terkini
-
Nilai Kinerja Positif, Gerindra Beri Lampu Hijau Rudy Susmanto Lanjut Periode Kedua
-
Hilang 10 Hari, Siswi SMK Asal Tasikmalaya Ditemukan di Apartemen Tangerang
-
Kronologi Bus Persib U-18 Diserang di Batang, Kaca Pecah hingga Official Dikeroyok
-
DPRD Jabar: Penyerangan Bus Persib U-18 Bukan Rivalitas, tetapi Kriminalitas
-
Utang Rp25 Juta Diduga Jadi Motif Pembunuhan Sopir Ojol di Sumedang