Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan untuk membatasi asupan gula hingga kurang dari lima persen dari kebutuhan kalori harian dapat memberikan manfaat kesehatan untuk jangka panjang.
Dilansir dari Asia One, secangkir boba atau bubble tea 500ml mengandung sedikitnya 8,5 hingga 20,5 sendok teh gula, dengan rasa manis 100 persen.
Jumlah itu memiliki jumlah karbohidrat yang setara dengan lebih dari setengah mangkuk nasi.
Jadi, minuman ini memang dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah dan lonjakan insulin, yang meningkatkan risiko diabetes, atau memperburuk kontrol gula jika seseorang sudah menderita diabetes, terutama jika dilakukan sebagai kebiasaan jangka panjang.
"Minum bubble tea (diartikan sebagai boba) tidak akan menyebabkan diabetes secara langsung. Namun, kandungan gulanya dapat menimbulkan risiko tinggi. Tidak hanya diabetes, tetapi juga kekebalan yang rendah, penuaan yang dipercepat, dan kerusakan gigi," jelas dokter konsultan Dr Tan Wee Yong.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
Terkini
-
Waspada Jebakan Swasembada Beras: HKTI Jabar Desak Pemerintah Prabowo Lakukan Lima Langkah Strategis
-
Dirjen Bangda Kemendagri Ingatkan Pengelolaan Anggaran By Design
-
Komitmen Dukung ASRI, BRI Bersih-bersih di Pantai Kedonganan Bali
-
Kebakaran Pabrik Plastik di Cibolerang Bandung, Asap Hitam Membumbung
-
Persib Bandung Gaet Sergio Castel: 5 Poin Penting Rekrutan Anyar Pangeran Biru