Suhardiman
Rabu, 20 Mei 2026 | 13:34 WIB
Pedagang daging sapi kembali berjualan di pasar Kosambi, Kota Bandung. (Istimewa)
Baca 10 detik
  • Pedagang daging sapi di Pasar Kosambi Bandung kembali berjualan pada 20 Mei 2026 setelah melakukan aksi mogok dua hari.
  • Aksi mogok dilakukan karena minimnya suplai dari rumah potong serta protes atas kenaikan harga daging sapi impor.
  • Saat ini harga daging sapi mencapai Rp130 ribu hingga Rp180 ribu per kilogram akibat ketergantungan pada impor Australia.

SuaraJabar.id - Sejumlah pedagang daging sapi di Pasar Kosambi, Bandung, kembali berjualan. Mereka sebelumya sempat mogok berjualan selama dua hari, 18 dan 19 Mei 2026.

Menurut salah satu pedagang daging sapi, Yana, mogok massal pedagang dikarenakan tidak ada suplai dari rumah potong terutama dari bandar yang selama ini memasok daging.

Selain itu, ada imbauan dari asosiasi pedagang agar tidak dulu berjualan sebagai bentuk protes kenaikan harga sapi impor khususnya yang kian melambung.

"Memang ada arahan untuk tidak berjualan dulu dari sananya. Kita ma kalau emang barangnya ada pasti jualan walaupun pembeli tidak begitu banyak," katanya, Rabu (20/5/2026).

Saat ini, menurut Yana, harga daging bervariasi mulai dari Rp130 ribu per kilogram (kg) hingga Rp180 ribu per kg tergantung daging bagian mana.

Dengan harga tersebut, Yana mengaku bisa menjual daging sapi sebanyak 40 kg setiap harinya.

Namun, yang menjadi persoalan saat ini yakni harga terus naik karena suplai daging sapi menurun. Selain itu, permintaan juga tidak terlalu banyak.

"Kalau sapi ini kan bukan daging utama untuk dikonsumsi. Jadi kalau dianggap malah konsumen cari yang lain kata ayam, ikan," ujarnya.

Menjelang Idul Adha, biasanya memang harga daging sapi mengalami kenaikan, karena suplai yang selama ini dijual ke pasar kemudian harus dijual untuk Idul Adha.

Setelah Idul Adha, Yana berharap ada penurunan harga di tengah kondisi dolar AS yang belum juga mereda. Lantaran, selama ini sapi dari Indonesia didatangkan dari Australia.

Sehingga, sapi impor bisa mengalami kenaikan harga saat nilai tukar rupiah terhadap dolar tertekan.

"Kan banyaknya sapi kita impor. Mudah-mudahan bisa cepet turun lah," ungkapnya.

Load More