Scroll untuk membaca artikel
Rima Sekarani Imamun Nissa | Amertiya Saraswati
Senin, 16 November 2020 | 10:01 WIB
Ilustrasi salon. (Unsplash/Aw Creative)

Namun, semua cara yang dicoba tak berhasil. Sebaliknya, si penata rambut malah menyuruhnya untuk potong pendek dan menganggap ini bukan masalah besar.

"Mereka menggunakan kondisioner, minyak zaitun, dan mencoba semuanya tapi tidak ada perubahan. Mereka bahkan memakai tangan dan mencoba menarik rambutku."

"Mereka menganggap ini bukan masalah dan menyuruhku memakai wig sebagai candaan," ungkap perawat 36 tahun ini.

Ilustrasi potong rambut. (Pixabay/kaleido-dp)

Tak cuma itu, pihak salon yang memotong pendek rambut Kimberley sama sekali tidak merapikannya. Rambut panjang wanita ini berubah tipis dan acak-acakan.

Baca Juga: Tak Harus Sering ke Salon, 5 Makanan Ini Bikin Kuku dan Rambut Jadi Sehat

Insiden ini membuat Kimberley trauma hingga harus menjalani konseling. Pasalnya, dia sudah susah-susah merawat rambut selama belasan tahun.

Selain itu, Kimberley kemudidna berbalik menuntut pihak salon. Namun, butuh 6 bulan sampai mereka mau mengaku salah dan memberinya kompensasi senilai Rp 112 juta.

"Ini mungkin terdengar sepele tapi aku tak bisa tidur, makan, dan menangis berbulan-bulan. Aku sangat kecewa dan takut ke salon lagi," ujar dia.

"Butuh setahun bagiku untuk kembali percaya diri. Aku sudah membuat janji untuk memperbaikinya, tapi aku hanya ingin memanjangkan rambut lagi," kata Kimberley.

Baca Juga: Pergi ke Salon atau Restoran saat Pandemi? Terapkan Protokol Kesehatan Ini

Load More