SuaraJabar.id - Lebih dari 10 juta orang menderita Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) di Indonesia. Bahkan mayoritasnya hidup dengan riwayat merokok atau di area dengan polusi udara berdasarkan data prevalensi RISKESDAS 2013.
Dokter Spesialis Paru, Konsultan Asma dan PPOK RSUP Persahabatan, dr. Budhi Antariksa, SpP (K), Ph.D, mengatakan PPOK merupakan penyakit kronis saluran napas yang ditandai dengan hambatan aliran udara.
“Jadi seperti tersendat aliran nafasnya itu khususnya pada udara ekspirasi dan ini bersifat progresif lambat dimana semakin lama akan semakin memburuk,” ujar Budhi dalam pernyataannya pada diksusi tentang ‘Pejuang Peyakit Paru Ditengah Pandemi Covid-19’, ditulis Kamis (19/11/2020).
Lebih lanjut, menurut dia, PPOK umumnya disebabkan oleh merokok, polusi udara di dalam maupun di luar ruangan. Awal terjadinya penyakit ini biasanya pada usia pertengahan dan sulit hilang dengan pengobatan.
“Untuk gejalanya PPOK yakni mengalami sesak napas yang bertambah ketika beraktifitas dan/atau bertambah dengan meningkatnya usia disertai batuk berdahak atau pernah mengalami sesak napas disertai batuk berdahak,” katanya.
Dalam membantu pasien PPOK, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Klikdokter bersama PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) meluncurkan media edukasi online berbasis whatsapp dan instagram pertama di Indonesia bernama @sepenuhnapas.
Media ini berfokus untuk memberikan edukasi dan informasi seputar kesehatan pernapasan seperti Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK), Tuberkolosis (TBC), Asthma hingga Covid-19.
Menurut Product Management PT Kalbe Farma Tbk Apt. Mindo Fuji Siahaan, S. Farm, bahwa pembuatan media edukasi online ini guna bertujuan meningkatkan kesehatan untuk hidup yang lebih baik bagi seluruh masyarakat Indonesia.
“Salah satunya melalui kegiatan edukasi kesehatan pernafasan dalam menjalani penyesuaian kebiasan baru Covid-19 yang dapat mempengaruhi kehidupan banyak orang khususnya penyintas PPOK,” beber dia.
Baca Juga: Keji! Tiga Anak Dipaksa Mengemis, Merokok Hingga Mencuri di Jakarta Barat
Edukasi kesehatan ini juga merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan Kalbe “Bersama Sehatkan Bangsa” dalam pilar SEHAT (Sains dan Teknologi Kesehatan, Ekosistem dan Kelestarian Lingkungan, Hidup Sehat dan Pendidikan Kesehatan, Akses Layanan Kesehatan, Total Ekosistem Bisnis Berkelanjutan).
"Kami melihat tingkat kepedulian masyarakat masih rendah terhadap penyakit pernapasan, dimana saat ini kita berada ditengah pandemi Covid-19 yang juga merupakan salah satu penyakit pernapasan,” ungkapnya.
Dia juga berharap dengan ada media edukasi kesehatan ini dapat menjadi wadah edukasi bagi masyarakat dalam mengantisipasi penyakit pernapasan lebih dini, dan jika memang sudah hidup dengan penyakit pernapasan, pasien bisa menemukan pola hidup yang lebih sehat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- 4 Parfum Aroma Teh di Alfamart yang Tahan Lama Sesuai Review, Harga Mulai Rp30 Ribuan
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Cari HP Samsung Murah? Ini 8 Galaxy A Series yang Layak Dipilih
Pilihan
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
Terkini
-
Bikin Elus Dada! Anak di Gunungsindur Bogor Tega Aniaya Sang Ayah Hingga Meninggal
-
Bantah Isu Fasilitas Khusus, Pengacara: Ferdy Sambo Huni Sel Blok A 2.5 Lapas Cibinong
-
Ponaryo Astaman Prediksi FIFA ASEAN Cup 2026 Bakal Berlangsung Ketat
-
Bappisus dan Menimipas Usut Dugaan 'Kamar Khusus' Berbayar bagi Napi di Lapas Cibinong
-
Nonton Pestapora 2026 Makin Praktis, Ada Cashback 20 Persen Pakai QRIS BRImo