Scroll untuk membaca artikel
Ari Syahril Ramadhan
Kamis, 30 September 2021 | 14:50 WIB
ILUSTRASI- Kongres PKI. Di mana saat itu ada seorang bangsawan Kukar yang memilih menjadi kader PKI. [Istimewa]

Ia menggalang dukungan dari rekan-rekannya di Perisai Diri ITB. Tujuannya, untuk menduduki kampus sekolah Chung Hwa yang terletak di Jalan Cihampelas No. 173.

Setelah mendapat dukungan, Hendro mulai mengatur taktik dan strategi. Ia masih mengingat, saat itu Perisai Diri ITB menggelar rapat hingga pukul 01.00 dini hari. Maklum kata Hendro, banyak hal yang mereka bahas. Mulai dari pemetaan geografis, hingga taktik untuk tak terlihat oleh aparat keamanan.

Selasa pagi, 10 Mei 1966, massa anti-komunis ITB berkumpul di kampus. Mereka kemudian bergerak bersama menuju Alun-Alun Bandung untuk mengikuti Apel Pancasila.

Namun, Hendro dan anak-anak Perisai DIri ITB tidak ikut dalam barisan massa aksi. Mereka berbelok menuju titik kumpul yang sudah ditentukan.

Baca Juga: Buku Merah Serpong, Catatan Sejarah 27 Anggota PKI Dilabeli Orang Terlarang di KTP

Beberapa berkumpul di pertigaan Gandok. Tugasnya mengawasi pos polisi yang ada di sana.

“Ada pos polisi, kita lihat-lihat. Gimana caranya supaya kita lebih cepat dari polisi,” ujar Hendro.

Anggota tim yang lain berkumpul di lorong-lorong yang terletak di seberang sekolah yang akan mereka duduki. Ketika kondisi dirasa sudah aman, mereka bergerak menuju kampus Chung Hwa.

“Tanpa perlawanan. Kami beri naskah isinya mereka menyerahkan sekolah. Naskah itu ditandatangani oleh kepala sekolah mereka. Pas jam makan siang, mereka semua meninggalkan sekolah,” kenang alumni angkatan 1963 ini.

Setelah berhasil diduduki, mereka berkoordinasi dengan komando terotorial militer terdekat. Komando Distrik Militer (Kodim) Kota Bandung kemudian meminta Resimen Mahasiswa Mahawarman ITB untuk menjaga kampus sekolah eks Chung Hwa. Hendro mengaku turut serta menjaga bangunan sekolah itu.

Baca Juga: Profil Abdul Haris Nasution: Jenderal Besar, Konseptor Perang Gerilya dan Dwifungsi ABRI

“Kalau saya dulu Mahawarman, disuruh jagain lah,” ujar Hendro.

Load More