SuaraJabar.id - Mentari pagi menghangatkan kulit Hadjarudin Supiana yang kian mengeriput dimakan waktu. Menenteng sebuah tas sederhana berisi buku, ia mulai bersiap menuju tempatnya mengabdi selama puluhan tahun.
Pria berusia 75 tahun merupakan seorang tenaga pendidik non Pegawai Negeri Sipil (PNS) alias guru honorer di pelosok Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur. Ia sudah mengabdi sekitar 52 tahun.
Pagi itu, pria sepuh bernama Hadjarudin berangkat ke sekolah dengan melewati tapal batas antara Cianjur dengan Bandung Barat.
Langkahnya memang tidak setegak semasa muda, namun semangatnya untuk menempuh perjalanan 5 kilometer menuju sekolah tetap terjaga hingga kini.
Baca Juga: Waduh, PNS di Rokan Hilir Ditangkap Terkait Kasus Pencurian AC
Ia sejatinya adalah warga Desa Sukasirna, Kecamatan Campakamulya, Kabupaten Cianjur. Tempat tinggalnya merupakan pelosok di wilayah Kabupaten Cianjur, yang jaraknya sekitar 75 kilometer dari perkotaan.
Sementara tempatnya mengajar kini berada di SDN Babakan Sirna yang berada di Kampung Leuwipanto, RT 01/06, Desa Cilangari, Kecamatan Gununghalu, KBB. Jaraknya sekitar 58 kilometer apabila ditempuh dari Ibu Kota Bandung Barat, Ngamprah.
"Bapak itu jadi guru dari tahun 1970-an. Waktu itu masih di Cianjur," ucap Hadjarudin kepada Suara.com, belum lama ini.
Tentunya butuh perjuangan hebat ditengah berbagai berbagai keterbatasan. Namun bagi sosok pria kelahiran 8 Oktober 1947 itu itu bukan hambatan. Semangatnya tetap membara meskipun upah yang diterimanya jauh dari layak.
Hadjarudin mulai mengajar sekitar tahun 1970-an di salah satu sekolah di Kabupaten Cianjur, usai menyelesaikan pendidikan akhirnya di Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Ketika itu ia menerima upah Rp 10 ribu setiap bulannya.
Baca Juga: Aksi Nekat Warga Sebrangi Jembatan Indiana Jones di Cianjur
"Bapak pernah nerima Rp 10 ribu, kadang Rp 15 ribu. Tapi tidak apa-apa, dijalani aja," tutur Hadjarudin.
Singkat cerita, tahun 1973, Hadjarudin pindah mengajar di salah satu sekolah di Bandung Barat yang kala itu masih menjadi bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Bandung. Ia menjadi guru pelajaran umum atau guru kelas.
Ia sangat merasakan betul beratnya perjuangan menjadi tenaga pendidik di daerah perbatasan. Untuk sampai ke sekolah dari Cianjur ke Bandung Barat, Hadjarudin harus menempuh berkilo-kilo.
Tak jarang ia harus berjalan kaki melewati jalan setapak untuk mempersingkat jarang tempuh dan waktu. Meskipun terkadang jalan yang dilewatinya licin dan becek sehabis diguyur hujan semalam. Ia tak patah arang, dan terus semangat mengajar.
"Kalau dulu memang suka jalan kaki ke sekolah," ucap Hadjarudin.
Saat usianya belum memasuki batas pensiun, ia sangat ingin sekali ada perhatian dari pemerintah untuk mengangkatnya secara langsung menjadi PNS atas jasa-jasanya sebagai tenaga pendidik di wilayah pelosok.
Bahkan, ia sempat juga mengikuti seleksi menjadi abdi negara. Namun nasib berkata lain. Ia tetap menjadi honorer. Minim sekali apresiasi yang diterimanya dari pemerintah selama puluhan tahun pengabdiannya.
Tercatat ia hanya menerima penghargaan Guru Daerah Terpencil (Gurdacil) dua kali. Ketika itu Hadjarudin menerima sekitar Rp 1,7 juta. Namun setelahnya tidak ada lagi apresiasi.
"Kalau temen-temen saya yang seangkatan udah banyak yang jadi PNS. Cuma saya aja yang gagal waktu ikut tes," tuturnya.
Kini diusia senjanya, ia masih tercatat sebagai guru honorer di SDN Babakan Sirna, Bandung Barat. Ia merasa masih sanggup untuk mengajar, meskipun harus menempuh perjalanan yang lumayan jauh.
Dengan upah Rp 350 ribu setiap bulannya, Hadjarudin bertugas mengajar sebagai guru kelas II. Meski berdomisili di Cianjur, ia berharap ada perhatian dari Pemkab Bandung Barat sebab sudah puluhan tahun dirinya mengabdi di wilayah yang kini dipimpin Plt Bupati Hengky Kurniawan itu.
"Kadang saya jalan, tapi sekarang lebih sering antar jemput sama anak angkat saya. Jaraknya ada sekitar 5 kilometer ke sekolah," ucap Hadjarudin.
Kepala Sekolah SDN Babakan Sirna, Dadang Hikmat Subagia mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, Hadjarudin mengajar disekolah yang dipimpinnya itu sejak tahun 1998.
"Memang dari dulu honorer. Dulu beliau pernah mengajar Bahasa Sunda, tapi sekarang pegang kelas II," terang Dadang.
Bagi para guru lainnya di sekolah tersebut, Hadjarudin merupakan sosok panutan dan senior yang patut ditiru. Sebab, meskipun hanya berstatus non PNS, semangatnya untuk mendidik tidak pernah kendor. Termasuk di usia senjanya kini.
Dadang mengaku sosoknya masih dibutuhkan hingga saat ini, sebab di SDN Babakan Sirna masih kekurangan tenaga pendidik.
Bahkan, di sekolah tersebut tidak ada guru khusus PJOK, sehingga untuk mata pelajaran olahraga harus diemban oleh guru kelas.
Meski begitu, kata Dadang, pihaknya tidak melarang apabila Hadjarudin sewaktu-waktu ingin berhenti.
"Beliau kami anggap sebagai sesepuh, orang tua kami. Memang sampai sekarang dibutuhkan karena beliau pegang kelas karena ada guru honor yang pindah," ujar Dadang.
Kontributor : Ferrye Bangkit Rizki
Berita Terkait
-
Jalur Puncak Hari Ini: Pemudik Balik Campur Wisatawan, Macet Tak Terhindarkan?
-
TPG Lebaran Tertunda? Ini Langkah Cepat Agar Tunjangan Cair April 2025!
-
Bill Gates Prediksi Profesi Dokter dan Guru Bakal Hilang 10 Tahun Lagi
-
Cara Mengatasi Kode 07, 13 dan 16 Pada Info GTK Agar TPG Triwulan I Guru Segera Cair
-
Soroti Guru Minta Hadiah Pensiun ke Siswa, Mendikdasmen: Tradisi yang Melanggar Hukum
Terpopuler
- Dedi Mulyadi Sebut Masjid Al Jabbar Dibangun dari Dana Pinjaman, Kini Jadi Perdebatan Publik
- Baru Sekali Bela Timnas Indonesia, Dean James Dibidik Jawara Liga Champions
- Terungkap, Ini Alasan Ruben Onsu Rayakan Idul Fitri dengan "Keluarga" yang Tak Dikenal
- Yamaha NMAX Kalah Ganteng, Mesin Lebih Beringas: Intip Pesona Skuter Premium dari Aprilia
- JakOne Mobile Bank DKI Bermasalah, PSI: Gangguan Ini Menimbulkan Tanda Tanya
Pilihan
-
Hasil Liga Thailand: Bangkok United Menang Berkat Aksi Pratama Arhan
-
Prediksi Madura United vs Persija Jakarta: Jaminan Duel Panas Usai Lebaran!
-
Persib Bandung Menuju Back to Back Juara BRI Liga 1, Ini Jadwal Lengkap di Bulan April
-
Bocoran dari FC Dallas, Maarten Paes Bisa Tampil Lawan China
-
Almere City Surati Pemain untuk Perpanjang Kontrak, Thom Haye Tak Masuk!
Terkini
-
BRI Terapkan Prinsip ESG untuk Wujudkan Pertumbuhan Ekonomi yang Bertanggung Jawab
-
BRI Berikan Tips Keamanan Digital: Waspada Kejahatan Siber Saat Idulfitri 1446 H
-
Program BRI Menanam Grow & Green: Meningkatkan Ekosistem dan Kapasitas Masyarakat Lokal
-
Dedi Mulyadi Skakmat PTPN: Kenapa Tanah Negara Disewakan, Perkebunannya Mana?
-
Gubernur Dedi Mulyadi Libatkan Pakar, Evaluasi Besar-besaran Kegiatan Ekonomi di Pegunungan Jabar