- Blok Kupat di RW 13 Bandung merupakan sentra legendaris pembuatan kulit ketupat menjelang Idulfitri 2026.
- Sekitar 300 kepala keluarga di sana yang umumnya pekerja pabrik beralih menganyam janur saat Ramadan tiba.
- Perajin harian seperti Sri dapat menghasilkan seribu kulit ketupat sehari, menjaga tradisi turun-temurun keluarga.
SuaraJabar.id - Di sebuah sudut tersembunyi di Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, suara gemerisik daun kelapa muda menjadi musik latar yang tak pernah berhenti.
Menjelang Idulfitri 2026, lorong-lorong sempit dengan lebar tak sampai dua meter di RW 13 mendadak berubah warna menjadi kuning keputihan dan hijau pekat.
Inilah "Blok Kupat", sebuah wilayah legendaris yang lokasinya hanya sepelemparan batu dari Pasar Induk Caringin.
Uniknya, meski namanya telah melekat kuat sebagai "dapur" kulit ketupat terbesar di Bandung, tak ada satu pun warga yang tahu pasti kapan tradisi ini bermula. Sejarahnya seolah terkubur di bawah tumpukan janur, namun denyutnya tetap terasa melintasi zaman.
Ketua RW 13, Ruly, menyebutkan bahwa membuat kulit ketupat sudah menjadi identitas genetik warga setempat.
“Tradisi ini sudah ada jauh sebelum saya lahir. Sekarang, meski bahan pokok mulai mahal, sekitar 300 dari 800 kepala keluarga di sini masih setia menganyam,” ujar Ruly, Rabu (18/3/2026).
Metamorfosis Para Pekerja
Di hari biasa, warga Blok Kupat adalah buruh pabrik garmen, kuli bangunan, hingga pekerja serabutan. Namun, saat kalender menunjukkan sepuluh hari terakhir Ramadan, sebuah metamorfosis massal terjadi. Mereka meletakkan mesin jahit dan cangkul, lalu mengambil janur.
Logistik janur yang didatangkan dari Tasikmalaya, Ciamis, hingga Cianjur membanjiri gang-gang. Dalam sehari, seorang perajin bisa menghasilkan 500 hingga 1.000 kulit ketupat yang kemudian mereka jajakan sendiri ke pasar-pasar di seantero Bandung.
Baca Juga: 14 Hari Menantang Aspal: Kisah Pilu Saeful Nekat Jalan Kaki Cikarang-Kebumen Usai Uang Mudik Dicopet
Di salah satu sudut gang, nampak Sri Mulyani (50). Jemarinya yang mulai keriput bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata telanjang. Helai demi helai janur disilangkan, ditarik, dan dikunci hingga membentuk persegi sempurna dalam hitungan detik.
Kesetiaan Sri pada janur telah teruji selama puluhan tahun. “Saya sendiri bisa memproduksi hingga 12.000 kulit ketupat dalam tiga hari,” tutur Sri sambil terus menganyam.
Bagi Sri, Lebaran adalah masa panen. Dengan harga Rp10 ribu per ikat isi sepuluh, omzetnya melonjak hingga tiga kali lipat.
Di tangan Sri, janur kuning keputihan menjadi primadona yang paling dicari pembeli, mengalahkan janur hijau yang biasanya lebih awet namun kurang diminati secara estetika lebaran.
Tak jauh dari rumah Sri, ada Eli, seorang buruh pabrik garmen yang tengah memanfaatkan jatah libur kerjanya. Baginya, menganyam ketupat bukan sekadar mencari tambahan THR, melainkan ritual wajib untuk menjaga "napas" Blok Kupat agar tidak mati.
Eli tidak bekerja sendirian. Ia memboyong suami dan anak-anaknya untuk duduk melantai, mengelilingi tumpukan daun kelapa.
Berita Terkait
-
14 Hari Menantang Aspal: Kisah Pilu Saeful Nekat Jalan Kaki Cikarang-Kebumen Usai Uang Mudik Dicopet
-
Waspada Jalur Gelap! Wagub Jabar Kecewa Perbaikan Lampu Jalan di Sumedang Molor di Tengah Arus Mudik
-
Warga Ciamis Tenang! Stok Beras Melimpah 30 Ribu Ton, Satgas Pangan Jamin Aman Hingga Usai Lebaran
-
Lebaran Hemat di Sukabumi: Tiket Masuk Wisata Diskon 50 Persen, Cuma Rp6.000 Bisa Healing Sepuasnya
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Rp11,3 Triliun Digelontorkan, BNPP Fokus Benahi Empat Masalah Besar Kawasan Perbatasan RI
-
Iming-iming 'Dimudahkan Rezekinya', Modus Guru Ngaji Pelaku Pencabulan di Sukabumi
-
Sayembara Tangkap Begal Disorot, Kini Dedi Mulyadi Ajak Warga Buru Penjual Tramadol
-
Lagi! Guru Ngaji di Sukabumi Diduga Pelaku Pencabulan, Modusnya Bikin Geleng-geleng
-
Hajar Tampines Rovers 1-0, Igor Tolic Akui Fisik Skuad Persib Mulai Terkuras