- Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerjunkan 25 ribu mahasiswa ke 52 kecamatan Bandung Raya mulai Oktober 2026.
- Mahasiswa bertugas mengedukasi masyarakat mengelola sampah dari sumbernya untuk mengurangi volume timbulan sampah harian.
- Program ini menargetkan penurunan sampah hingga 1.000 ton per hari sebelum mencapai TPA Sarimukti.
Jika sampah organik masih tercampur dengan plastik dan material lainnya, proses pengolahan menggunakan maggot tidak dapat berjalan maksimal.
"Sehebat apa pun teknologinya, kuncinya tetap human capital, sumber daya manusia. Urusan perilaku tidak seperti membalikkan telapak tangan, tetapi harus dilakukan," ungkapnya.
Karena itu, Pemprov Jabar menerapkan dua pendekatan sekaligus, yakni technology engineering dan social engineering.
Teknologi pengolahan sampah terus dikembangkan, sementara perubahan perilaku masyarakat didorong melalui edukasi dan pendampingan secara masif.
Baca Juga:TPA Sarimukti Terancam Penuh November 2026, Lebih Cepat dari Perkiraan
Berbagai upaya tersebut diharapkan dapat memperpanjang masa operasional TPA Sarimukti hingga Desember 2029.
Setelah itu, pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Waste to Energy (WTE) di TPPAS Legok Nangka ditargetkan mulai beroperasi penuh pada 2030 sebagai solusi jangka panjang.
"Harapan Pak Gubernur, Sarimukti bisa operasional sampai Desember 2029. Kami sedang upayakan hulu, tengah dan hilir," harap Herman.
Herman menegaskan, persoalan sampah di Bandung Raya tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat juga harus terlibat dalam upaya mengurangi dan mengelola sampah.
Ia mencontohkan masih ditemukannya timbulan sampah di sejumlah lokasi yang dari luar terlihat bersih. Namun, setelah diperiksa, ternyata terdapat tumpukan sampah yang sengaja disembunyikan.
Baca Juga:Jejak Garang Spesialis Reserse, Irjen Hengki Resmi Duduki Kursi Kapolda Jabar
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengangkut sampah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
"Tidak bisa kita main angkut-angkut terus tanpa penanganan komprehensif. Saatnya ada peran serta masyarakat dan semua komponen," kata Herman.
Ia pun mengajak masyarakat Bandung Raya mulai mengurangi produksi sampah, memilah sampah sejak dari sumbernya, serta memanfaatkan kembali sampah yang masih memiliki nilai guna.
"Pemda sudah bergerak, perguruan tinggi bergerak, Pramuka bergerak. Ayo masyarakat juga bergerak," tegasnya.
Kontributor : Rahman