Scroll untuk membaca artikel
Ari Syahril Ramadhan
Rabu, 15 September 2021 | 11:07 WIB
Windy Cantika Aisah [ist]

Namun saat memasuki kelas 5 SD, Windy mulai serius mengikuti latihan.

"Kalau ditanya kenapa bisa jadi atlet (angkat besi) itu karena terinspirasi sama mamah Windy ya. Jadi pas kakak latihan, kan suka gangguin, terus dikasih paralon untuk latihan," ujarnya.

Saat duduk di bangku SD, tepatnya kelas 5 SD, Windy bergabung di klub angkat besi dan dibina langsung oleh mantan lifter nasional Maman Suryaman.

Lifter putri Indonesia Windy Cantika Aisah melakukan angkatan snatch dalam kelas 49 Kg Putri Grup A Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo International Forum, Tokyo, Jepang, Sabtu (24/7/2021). Windy Cantika berhasil mempersembahkan medali pertama bagi Indonesia yakni perunggu dengan total angkatan 194 Kg. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/wsj. (ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)

Saat ini Windy yang merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara itu menjadi atlet andalan angkat besi Indonesia dan diplot sebagai pengganti Sri Wahyuni.

Baca Juga: Top 5 Sport: Ini Alasan PBSI Bawa Pemain Muda untuk Piala Sudirman 2021

Selama mengikuti pelatihan, Windy mengaku selalu fokus, disiplin, baik sesi latihan yang diberikan oleh ibunya sendiri atau oleh pelatih di tingkat Kabupaten dan juga Pelatnas.

Disiplin dan fokus dalam latihan, kata Windy, menjadi kunci bagi dirinya hingga akhirnya bisa menorehkan prestasi.

Buah kedisiplinan dan fokus dalam latihan, membuat Windy berhasil memecahkan rekor angkat besi tingkat remaja dua kali yakni di Pattaya Thailand dan Filipina.

Selain itu, Windy juga memenangi medali emas pada Pesta Olahraga Asia Tenggara tahun 2019.

Medali perunggu di Olimpiade Tokyo di kelas 49 kilogram putri adalah prestasi terbaiknya.

Baca Juga: Update 15 September 2021: Pasien Covid-19 di RSD Wisma Atlet Tersisa 532 Orang

Atas prestasi teranyar itu, Windy berhak atas "kadedeuh" senilai Rp500 juta dari Pemdaprov Jabar dan Bank BJB.

Load More