SuaraJabar.id - Jajanan jadul gulali sempat disukai oleh anak-anak di era 80 hingga 90-an. Meski telah lama ada, gulali ternyata tak lekang dimakan waktu dan masih memiliki penggemar hingga saat ini.
Jajanan anak terus berkembang seiring perkembangan zaman. Berbagai produk makanan dan minuman baru terus bermunculan. Namun keberadaan produk jajanan anak baru tersebut tak mampu menggusur keberadaan gulali.
Gulali merupakan jajanan tradisional berbahan gula yang bisa dibentuk beraneka ragam. Saat ini keberadaannya sudah tak sebanyak zaman dulu. Meski begitu, jajanan jadul ini masih bisa ditemukan di Pasar Mingguan Sirkuit BMX Ciamis, Jawa Barat.
Anak-anak era tahun 80 hingga 90-an sangat menyukai jajanan jadul gulali yang berbahan dasar gula pasir dan pewarna makanan ini. Selain rasanya manis, bentuk gulali juga unik dan beraneka ragam.
Iwan, salah seorang pedagang gulali mengaku sudah berjualan gulali sejak ia masih bujang sampai sekarang, kurang lebih sekitar 10 tahunan.
“Awalnya belajar dari teman tentang tata cara proses pembuatan gulali sampai membentuknya sesuai keinginan anak. Seperti halnya bentuk bunga atau burung,” tuturnya baru-baru ini.
Menurut Iwan, peminat jajanan jadul gulali sampai saat ini juga masih ada. Baik dari anak-anak, remaja sampai dewasa. Maka dari itu, ia masih setia menekuni jualan jajanan jadul tersebut.
“Alhamdulilah, kalau peminatnya masih ada, biasanya anak-anak. Saya biasanya jualan di pasar mingguan BMX atau tempat hiburan. Saya juga jualan di sekitar sekolah-sekolah,” ungkapnya.
Iwan mengaku, untuk harga gulali tergantung bentuk pesanan pembeli. Kalau bentuk biasa seperti bunga, kuda, burung, bunga mawar dan lain-lain itu hanya Rp 5.000.
Baca Juga: Kecelakaan Pikap Masuk Jurang di Ciamis Diduga Akibat Rem Blong ? Begini Kata Polisi
Tapi jika ada pesanan dari pembeli ingin bentuk pesawat atau helikopter, itu beda lagi. Harganya paling tinggi sekitar Rp 10.000 karena proses pembuatannya cukup rumit.
Iwan menambahkan, penghasilannya dari berjualan jajanan jadul gulali bisa sampai Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu jika sedang ramai. Tapai kalau sepi paling hanya Rp 50 ribu saja.
“Kalau kemarin sedang pandemi dan tidak ada anak yang sekolah, penghasilan juga sepi. hanya bisa sampai 30 ribu rupiah saja,” pungkas Iwan.
Berita Terkait
-
Lantik ASN di Desa Terpencil, KDM Ingatkan Tugas Melayani Masyarakat hingga Pelosok
-
PPDB Jabar 2026 Kacau, Dedi Mulyadi Semprot Dinas Pendidikan: Seperti Ikan Gurame di Laut!
-
Hadiri Pujabakti Waisak Jawa Barat, Gubernur Dedi Mulyadi Ajak Warga Bijak Manfaatkan Hasil Bumi
-
Lautan Eceng Gondok Selimuti Permukaan Sungai Citarum
-
Rumah Mewah Eks Hakim Agung Gazalba Saleh Segera Dilelang KPK
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Habisi Satu Keluarga Termasuk Bayi 8 Bulan di Indramayu, Terdakwa Ririn Dituntut Hukuman Mati
-
Bupati Sukabumi Pecat Kepala Desa Babakanjaya Terkait Dugaan Penyimpangan APBDes
-
Tak Cukup Satu Tersangka, Pengacara Minta Polres Sukabumi Kota Tahan BHW dan Buru Penerima Video
-
Mahasiswa Bandung Demo Kritik MBG dan Ekonomi, Dedi Mulyadi: Enggak Ada Problem, Sudah Biasa
-
Kios Puncak Cianjur Digusur, Dedi Mulyadi Guyur Modal Usaha Rp10 Juta per Pedagang