-
Penyebab Banjir Rob Banjir rob di Eretan Wetan dipicu kenaikan air laut global dan pendangkalan sungai. Kondisi ini membuat desa tersebut menjadi "kota air" permanen yang menyulitkan aktivitas harian warga setempat.
-
Solusi Relokasi Warga Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan relokasi adalah solusi mutlak bagi warga pesisir. Menghadapi alam yang agresif tidak cukup hanya dengan infrastruktur, pemindahan pemukiman menjadi langkah penyelamatan nyawa yang utama.
-
Kepemimpinan Gerak Cepat Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen memangkas birokrasi demi mempercepat proses relokasi. Sebanyak 200 warga yang terdampak rob parah akan segera dipindahkan ke lahan baru untuk mengakhiri penderitaan mereka.
SuaraJabar.id - Krisis iklim bukan lagi sekadar prediksi sains, melainkan realitas pahit yang harus ditelan warga pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat. Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, kini seolah berubah menjadi "kota air" permanen akibat terjangan banjir rob yang tak kunjung henti.
Merespons kondisi darurat yang menyengsarakan rakyat ini, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turun tangan dengan pendekatan yang lugas dan berorientasi solusi jangka panjang.
Pria yang akrab disapa Kang Dedi atau KDM ini menegaskan bahwa melawan alam dengan cara konvensional tidak lagi efektif. Pemerintah Daerah (Pemda) harus berani mengambil langkah tidak populer namun menyelamat nyawa, yakni relokasi.
Dilansir dari Antara, Senin (8/12/2025), Dedi memaparkan analisisnya bahwa banjir rob di wilayah pesisir pada dasarnya dipicu oleh kenaikan muka air laut global yang diperparah oleh pendangkalan sungai.
“Banjir yang di Indramayu itu sederhana, yang pertama adalah daerah aliran sungainya harus dibenahi,” kata Dedi.
Dedi Mulyadi menilai, perbaikan infrastruktur sungai seperti normalisasi memang penting, namun itu saja tidak cukup untuk menahan laju air laut yang semakin agresif masuk ke daratan.
Oleh karena itu, relokasi permukiman warga yang berada di garis depan pantai (shoreline) menjadi opsi yang tak bisa ditawar lagi. Memaksakan tinggal di zona merah rob hanya akan memperpanjang penderitaan warga dan kerugian ekonomi yang berulang.
“Kedua, rumah-rumah yang langganan rob lebih baik direlokasi. Kalau laut tidak bisa dicegah, airnya makin naik dan akan terus masuk ke wilayah Eretan,” katanya dengan nada realistis.
Ia mengaku telah berkoordinasi langsung dengan Pemerintah Kabupaten Indramayu untuk segera mengeksekusi lahan relokasi. Tidak perlu menunggu lama, Dedi menyanggupi permintaan ratusan warga yang sudah menyerah menghadapi rob.
Baca Juga: PKL Simpang Bara Bakal Digeser ke Situ Babakan, Solusi Jitu Urai Macet Kampus IPB?
“Kemarin sudah 200 orang minta direlokasi. Saya sudah sanggup 200 orang direlokasi. Nggak ada yang sulit di Jawa Barat, semuanya mudah,” tegasnya.
Pernyataan "semuanya mudah" ini menjadi sinyal kuat bahwa Pemprov Jabar siap memangkas birokrasi yang menghambat proses penyelamatan warga dari bencana ekologis ini.
Kondisi di lapangan memang sudah sangat tidak manusiawi. Pada Jumat (5/12) lalu, banjir rob kembali merendam kawasan pesisir Desa Eretan Wetan dengan intensitas tinggi.
Sumarni (48), salah satu warga setempat, menuturkan kisah pilu kesehariannya. Jalanan desa sudah tidak bisa dilalui kendaraan bermotor. Warga terpaksa menggunakan perahu hanya untuk sekadar membeli kebutuhan pokok ke warung atau pasar, karena ketinggian air seringkali mencapai sepinggang orang dewasa.
“Kalau surut sebentar, air datang lagi. Tidak pernah benar-benar kering,” ungkap Sumarni menggambarkan keputusasaan warga.
Berita Terkait
-
PKL Simpang Bara Bakal Digeser ke Situ Babakan, Solusi Jitu Urai Macet Kampus IPB?
-
Sukabumi Dikepung Banjir! Sawah Jadi Beton, Kantor Desa Terendam hingga Jalan Utama Retak
-
Bukan Sekadar Ijazah, Rektor Baru IPB Dr. Alim Setiawan Siapkan Mahasiswa Jadi Global Leader
-
3 Fakta Mengerikan di Balik 'Rudal Kayu' Banjir Bandang Sumatera Menurut Pakar IPB
-
Banjir Sumatera Bukan Murni Bencana Alam, Pakar IPB Sebut 'Pesan Kematian' dari Pembalakan Liar
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Empat Sekolah di Bandung Dapat Dukungan Program Literasi, Siswa Dikenalkan Mitigasi Bencana
-
Sukabumi Rawan Keracunan Pangan, Dinkes Minta Dapur MBG Perketat Pengawasan
-
Ciamis Terima 15.600 Ayam Petelur, Produksi Telur Ditargetkan 780 Kg per Hari
-
Diteken di Bandung, Indonesia dan Malaysia Perkuat Kerja Sama Ekonomi dan Sosial di Perbatasan
-
Ancam Hukuman 15 Tahun Penjara, Polisi Bekuk Pelaku Pembacokan Acak Suporter Persib di Bogor