-
Iwan Suryawan meminta ASN Jabar membatalkan cuti Nataru 2025/2026 akibat peringatan BMKG tentang cuaca ekstrem, demi prioritas siaga bencana banjir dan longsor.
-
Pejabat publik Jabar diimbau menunda cuti Nataru untuk mengutamakan tanggung jawab sosial dan kesiapsiagaan 24 jam dalam menghadapi potensi bencana.
-
Pemprov Jabar diminta memperketat cuti ASN strategis, memastikan minimal 50% petugas penting siaga dan pimpinan pelayanan publik tidak kosong.
SuaraJabar.id - Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Iwan Suryawan, menyerukan kepada seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pejabat publik, termasuk Pegawai Negeri Sipil (PNS), di lingkungan Provinsi Jawa Barat untuk menempatkan tanggung jawab sosial dan kewaspadaan mitigasi di atas euforia libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026.
Seruan ini menyusul peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi cuaca ekstrem di wilayah Jawa Barat.
Iwan Suryawan menekankan bahwa meskipun cuti dan libur Nataru merupakan hak setiap ASN sesuai ketentuan pemerintah, situasi cuaca yang tidak menentu saat ini menuntut profesionalisme dan kepedulian ekstra. Jawa Barat, yang memasuki puncak musim hujan, berisiko tinggi mengalami banjir, longsor, dan angin kencang.
Menurut kalender resmi yang ditetapkan dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri, ASN dan PNS memiliki libur nasional pada 25 Desember (Natal) dan cuti bersama pada 26 Desember 2025, yang disambung dengan libur akhir pekan. Ditambah libur Tahun Baru 1 Januari 2026, periode ini menjadi waktu mobilitas tinggi.
"Kami memahami hak ASN untuk berlibur, namun kami meminta para pejabat dan ASN menahan diri dari perjalanan yang tidak esensial, terutama ke daerah-daerah yang sudah diidentifikasi rawan bencana oleh BMKG," tegas Iwan Suryawan dalam pesan yang diterima, Minggu 14 Desember 2025.
Ia mengingatkan bahwa status sebagai ASN dan pejabat publik membawa konsekuensi moral untuk selalu siap siaga, terutama saat masyarakat sangat membutuhkan kehadiran negara dalam situasi darurat. Pejabat, khususnya di tingkat eselon I hingga IV, harus memastikan jalur komunikasi dan koordinasi tetap terbuka 24 jam.
Iwan Suryawan secara spesifik mengimbau agar kepala organisasi perangkat daerah (OPD) dan para pejabat yang memiliki kewenangan langsung terkait pelayanan publik dan penanggulangan bencana (seperti Dinas PUPR, Dinas Kesehatan, dan BPBD) tidak mengambil cuti secara bersamaan.
Konsep tanggung jawab sosial yang disuarakan oleh Iwan Suryawan tidak hanya terbatas pada kehadiran fisik di kantor, melainkan juga kepedulian aktif di lingkungan tempat tinggal. ASN diminta menjadi agen informasi mitigasi dan teladan kewaspadaan di komunitas mereka.
"Libur Nataru bukan berarti libur dari kepedulian. ASN harus menjadi mata dan telinga pemerintah di lingkungannya," kata politisi dari fraksi PKS tersebut.
Baca Juga: Paduan Alam dan Hiburan: Inspirasi Liburan Sekolah dan Nataru di Puncak Bogor
Ia mengarahkan agar ASN memantau kondisi lingkungan, terutama saluran air, potensi pohon tumbang, dan tetangga yang rentan terhadap bencana.
Hal ini, lanjutnya, adalah implementasi dari semangat 'Pancasila dalam Tindakan'. Bahwa setiap elemen pemerintah, walau sedang tidak dalam jam kerja, tetap memikul beban moral untuk berkontribusi pada keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
Iwan Suryawan meminta Pemerintah Provinsi Jabar melalui Sekretariat Daerah untuk memperketat prosedur permohonan cuti bagi ASN, khususnya bagi yang menjabat posisi strategis. Perlu ada kuota dan skema shift yang jelas, memastikan minimal 50% petugas penting tetap siaga di pos masing-masing.
"Gubernur harus mengeluarkan instruksi yang memastikan tidak ada kekosongan pemimpin dan petugas inti di posko-posko penanggulangan bencana daerah (PBD) dan pelayanan publik esensial," tambahnya.
Kepada masyarakat umum, Iwan Suryawan juga menyampaikan imbauan yang sama. Ia meminta warga yang merencanakan perjalanan Nataru untuk memantau prakiraan cuaca regional secara berkala.
Mengingat Jawa Barat kaya akan destinasi wisata alam, Iwan Suryawan secara khusus memperingatkan wisatawan, baik ASN maupun masyarakat, agar menghindari kawasan-kawasan yang berisiko tinggi saat hujan lebat.
Berita Terkait
-
Paduan Alam dan Hiburan: Inspirasi Liburan Sekolah dan Nataru di Puncak Bogor
-
Iwan Suryawan: Konsumsi Warga Topang 55 Persen Kekuatan Ekonomi Jabar
-
Bocimi dan Parungkuda Kritis! Ini Peta Rawan Macet Nataru 2026 yang Diantisipasi Kemenhub
-
15.600 Ponpes Jabar Terancam? Iwan Suryawan Desak Dana Hibah 2026 Khusus Penyelamat Bangunan
-
Bojonggede Porak-poranda Diterjang Angin Kencang, 75 Rumah dan Sekolah Rusak
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Wali Kota Bandung Ngamuk Gegara Penebangan Pohon: Jangan Ketawa Lu, Gue Segel Ini Tempat!
-
Geger! Penemuan Mayat Terendam di Cianjur, Berawal dari Sepasang Sepatu Bot
-
BPBD Kota Banjar Salurkan 5.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan
-
Polres Garut Sita Ribuan Butir Obat Keras Ilegal, Seorang Pria Asal Aceh Ditangkap
-
Tetangga Manfaatkan Kedekatan, Siswi SMP di Pangandaran Jadi Korban Kekerasan Seksual