-
Iwan Suryawan meminta dana hibah 2026 diperkuat untuk 15.600 pesantren di Jabar.
-
Penguatan dana hibah pesantren 2026 sasar pencegahan bangunan ambruk demi keselamatan santri.
-
Isu bangunan rapuh di 15.600 pesantren Jabar ditangani dengan usulan peningkatan dana hibah.
SuaraJabar.id - Di tengah peringatan Hari Santri Nasional, komitmen terhadap pondok pesantren kembali menjadi sorotan utama di Jawa Barat. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat, Iwan Suryawan, mendesak percepatan dan perbaikan penyaluran dana hibah untuk pondok pesantren.
Ia menekankan pentingnya peran pesantren dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, berilmu, dan berakhlak mulia, sejalan dengan semangat Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2021 tentang Fasilitasi Penyelenggaraan Pesantren.
Iwan Suryawan, yang akrab disapa Abah Iwan, menyatakan bahwa momen Hari Santri Nasional 21 Oktober 2025 harus dijadikan momentum untuk memperkuat komitmen pemerintah provinsi terhadap seluruh institusi pesantren. Menurutnya, pesantren adalah pilar penting dalam menjaga moralitas dan kekuatan bangsa.
Abah Iwan menegaskan bahwa alokasi dana hibah untuk pesantren merupakan komitmen serius Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam mendukung lembaga pendidikan keagamaan.
"Tercatat, tidak kurang dari 15.600 pondok pesantren berdiri dan tersebar di berbagai wilayah di Jawa Barat. Keberadaan ini patut kita syukuri dan wajib kita support melalui berbagai kebijakan, termasuk dukungan anggaran," ujar Iwan Suryawan, Rabu 23 Oktober 2025.
Perkembangan penyaluran dana hibah ini, kata Iwan, terus dipantau secara ketat oleh DPRD, khususnya melalui fungsi pengawasan. Tujuannya adalah memastikan bahwa bantuan yang disalurkan benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas pesantren, baik dari sisi sarana maupun operasional.
"Kami di dewan selalu mendorong agar birokrasi penyaluran dana hibah ini bisa lebih disederhanakan dan dipercepat. Prosedur yang berbelit seringkali menjadi kendala di lapangan, menghambat pesantren untuk segera memanfaatkan dana yang sudah dialokasikan," jelas politisi dari Fraksi PKS ini.
Iwan mengakui bahwa meskipun sudah ada perbaikan, masih ditemukan beberapa tantangan, terutama terkait kelengkapan administrasi dan legalitas lahan dari pihak pesantren. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama agar pesantren memiliki tata kelola yang baik.
"Kami meminta dinas terkait untuk melakukan pendampingan intensif kepada pesantren-pesantren, terutama yang berada di daerah pelosok, agar mereka mampu memenuhi semua persyaratan administratif. Ini bukan untuk mempersulit, melainkan untuk memastikan akuntabilitas penggunaan dana publik," tegasnya.
Baca Juga: Ini Pejabat Hampir Dipecat Dedi Mulyadi Karena Kasus Data APBD
Menurutnya, transparansi dan akuntabilitas adalah kunci utama keberhasilan program hibah ini. Setiap rupiah APBD yang disalurkan harus jelas jejaknya dan kembali ke rakyat dalam bentuk peningkatan kualitas pendidikan di pesantren.
Dalam konteks komitmen anggaran, Iwan Suryawan secara khusus menyoroti kebijakan Gubernur sebelumnya, Dedi Mulyadi, yang sempat memicu polemik di kalangan pesantren melalui pemangkasan dana hibah yang diganti dengan skema beasiswa santri.
Iwan menyatakan bahwa DPRD telah mengapresiasi upaya Dedi Mulyadi menertibkan penyaluran dana hibah yang dinilai tidak merata. Namun, ia memandang, langkah Dedi Mulyadi yang memutuskan untuk menghapus alokasi dana hibah untuk yayasan pesantren dan menggantinya dengan program beasiswa santri tidak mampu senilai Rp10 miliar pada APBD Perubahan 2025, sebagai langkah yang kurang tepat.
"Penggantian skema dari hibah pembangunan infrastruktur menjadi beasiswa santri sebesar Rp10 miliar memang menyentuh langsung individu santri. Ini baik, tetapi nilainya jauh dari memadai," kritik Iwan Suryawan.
Ia menjelaskan bahwa Rp10 miliar untuk beasiswa hanya mampu menjangkau sebagian kecil dari total lebih dari 350.000 santri di Jawa Barat, diperkirakan hanya menyentuh sekitar 1 persen lebih.
"Jumlah santri kita mencapai ratusan ribu, alokasi Rp10 miliar hanya bersifat 'kosmetik' dan belum menyelesaikan masalah besar terkait kelayakan bangunan dan sarana pesantren secara keseluruhan," tegasnya.
Berita Terkait
-
Ini Pejabat Hampir Dipecat Dedi Mulyadi Karena Kasus Data APBD
-
Fakta Iklan Air Pegunungan: Aqua Diduga Pakai Sumur Bor, BPKN Bakal Panggil Direksi
-
Krisis Air PDAM Tirta Kahuripan Kian Parah, Netizen Kepung Medsos Desak Dedi Mulyadi Turun Tangan
-
Dedi Tantang Purbaya Buka Data! Bantah Endapkan Triliunan Uang Rakyat di Deposito
-
Dedi Mulyadi Murka Dituding Timbun Dana Rp4,17 T, Tantang Menkeu Purbaya Buka Data Daerah Lain
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
- 5 HP Android dengan Kualitas Setara iPhone 13 Pro dan iPhone 13 Pro Max
Pilihan
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
Terkini
-
Bupati Tegaskan Karawang Anti Gay, Dedi Mulyadi Dorong Tindakan Nyata di Lapangan
-
Sikapi Pesta LGBT Karawang, Dedi Mulyadi Gagas Pembinaan di Barak Militer
-
Viral Pesta Gay di Karawang, Polda Jabar Tetapkan 3 Tersangka Terkait Video Cabul
-
Buntut Video 12 Detik Pria Berciuman, Polisi Geruduk Theater Night Mart Karawang
-
Unggul Cuma Semenit, Kemenangan Timnas Putri Indonesia Digagalkan Kamboja di Arcamanik