- Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) bertujuan menempatkan komunitas Tionghoa sebagai bagian utuh dari narasi sejarah nasional Indonesia.
- GBTI menyajikan arsip foto, video dokumentasi dari berbagai lembaga, dan riset lapangan untuk membuktikan peran Tionghoa dalam masyarakat.
- Museum ini menggunakan pendekatan interaktif dan domestik, seperti ruang makan, untuk menjembatani pemahaman sejarah komunitas lintas generasi.
“Di Ruang Keakraban, kami menampilkan berbagai hasil asimilasi dan akulturasi budaya, mulai dari peralatan dapur, resep tulisan tangan, hingga wastra dan busana,” ujar Bob.
Di tengah ruang tersebut, sebuah meja makan besar menjadi pusat perhatian, bukan sebagai instalasi artistik semata, tetapi sebagai metafora kebersamaan.
“Meja makan ini kami hadirkan dengan harapan pengunjung bisa datang bersama, duduk, berbincang, dan berbagi cerita,” katanya.
GBTI juga menghadirkan elemen interaktif yang sering dianggap ‘tidak lazim’ untuk museum sejarah, seperti permainan arcade dan simulasi memasak. Bagi Bob, pilihan ini justru penting untuk membuka akses pemahaman yang lebih luas.
“Kami tidak menargetkan GBTI sebagai museum sejarah yang kaku. Posisi kami ada di antara galeri dan museum,” ujarnya.
Karena itu pula, tidak semua artefak yang ditampilkan merupakan benda asli.
“Sebagian artefak direproduksi agar ruang ini tidak menjadi situs edukasi yang terlalu serius,” kata Bob.
Pendekatan tersebut, menurutnya, memungkinkan pengunjung, terutama generasi muda yang belajar sejarah tanpa merasa sedang diajari.
“Dengan adanya permainan, video, dan ruang interaktif, pengunjung muda bisa belajar secara menyenangkan sambil memahami konteks sejarah dan budaya secara lebih kompleks,” ujarnya.
Baca Juga: Laila Al Khusna dan Batik Siger: Mengangkat Martabat Budaya Lampung Lewat Pemberdayaan UMKM
Melalui pendekatan ini, GBTI tidak sedang membangun monumen identitas, melainkan membuka ruang pemahaman. Sejarah komunitas Tionghoa dihadirkan bukan sebagai kisah tentang yang lain, tetapi sebagai bagian dari perjalanan Indonesia itu sendiri.
“Sejak lama komunitas Tionghoa hidup dan mendampingi Indonesia di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, industri kreatif, gaya hidup, hingga tradisi,” kata Bob.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Jejak Dini Hari di TPA Galuga, Kala Bupati Bogor dan Tim Gabungan Bertarung Menundukkan Bara Api
-
BRI dan Holding UMi Dorong Jutaan Pelaku Usaha Ultra Mikro Naik Kelas
-
Kemarau Jabar: 325 Hektare Lahan Terbakar dan 215 Ribu KK Terdampak Kekeringan
-
Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions
-
Tati Purwanti Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei, Tumbuh Bersama Dukungan BRI