Wakos Reza Gautama
Kamis, 19 Maret 2026 | 10:12 WIB
Ilustrasi kebakaran rumah. Kebakaran menghanguskan tiga unit rumah di Dusun Gardu, Desa Nagarapageuh, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, Rabu (18/3/2026). [Shutterstock]
Baca 10 detik
  • Kebakaran terjadi pada Rabu (18/3/2026) di Dusun Gardu, Ciamis, akibat kelalaian membakar sampah tanpa pengawasan.
  • Api membesar cepat dan menghanguskan tiga unit rumah berdekatan, dengan kerugian materiil ditaksir mencapai Rp300 juta.
  • Pemadam kebakaran Kawali merespons pukul 08.30 WIB; semua penghuni berhasil selamat dari bencana tersebut.

SuaraJabar.id - Pagi yang semestinya tenang di Dusun Gardu, Desa Nagarapageuh, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, mendadak berubah menjadi kepanikan luar biasa pada Rabu (18/3/2026).

Niat awal salah seorang warga untuk membersihkan pekarangan dengan membakar tumpukan sampah, justru berujung pada malapetaka bernilai ratusan juta rupiah.

Hanya karena sekelumit kecerobohan, meninggalkan bara api yang masih menyala merah tanpa pengawasan, si jago merah mengamuk.

Api yang tertiup angin pagi dengan cepat menjilat material mudah terbakar di sekitarnya, membesar tak terkendali, hingga akhirnya menelan bulat-bulat tiga unit rumah yang saling berdekatan.

Laporan darurat pertama kali diterima oleh Pos Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) Kawali tepat pukul 08.30 WIB dari salah seorang korban, Warjo Supriatna. Mendapat panggilan kepanikan tersebut, regu pemadam kebakaran tak membuang waktu.

Dengan raungan sirene membelah jalanan Ciamis, petugas tiba di lokasi tepat 30 menit kemudian. Namun sayang, saat mereka tiba, pemandangan yang tersaji sudah sangat mengerikan.

Anggota pemadam kebakaran wilayah Kawali, Rizki Junaedi, menuturkan betapa cepatnya proses rambatan api dari seonggok sampah menjadi bencana permukiman.

“Awal mula kejadian sangat sepele. Salah satu pemilik rumah sedang membakar sampah di pekarangan. Namun, entah karena merasa sudah aman atau ada urusan lain, tumpukan sampah yang masih menyala itu ditinggalkan begitu saja. Tak butuh waktu lama, lidah api merembet ke dinding rumahnya sendiri, dan dengan beringas menjalar ke dua rumah tetangga di sisi kiri dan kanannya,” ungkap Rizki membeberkan kronologi.

Sebelum armada pemadam tiba, semangat gotong royong warga Nagarapageuh sejatinya sempat berkobar. Dengan peralatan seadanya, ember, slang air taman, hingga karung basah, puluhan warga berjibaku menyiram kobaran api.

Baca Juga: Misteri Blok Kupat Bandung: Gang Sempit yang Menyulap Jutaan Janur Menjadi Cuan Jelang Lebaran

Namun, amukan suhu panas dan kepulan asap hitam yang pekat membuat usaha manual tersebut sia-sia. Api menang telak.

Menghadapi monster api yang kian beringas, Pos WMK Kawali menurunkan kekuatan penuh. Dua unit mobil pemadam tempur, didukung satu unit kendaraan suplai air raksasa, dan 6 personel terlatih.

“Setibanya di lokasi, kami langsung memblokir area (containment) dan memuntahkan air bertekanan tinggi agar api tak lagi punya celah untuk meluas ke rumah keempat. Setelah api utama berhasil dipukul mundur, kami lanjutkan dengan proses pendinginan (cooling down) berjam-jam untuk memastikan tidak ada lagi titik bara kecil yang bersembunyi di balik puing-puing,” papar Rizki.

Beruntung, di balik musibah hebat ini, nasib baik masih berpihak. Ketiga pemilik rumah, Taupiq Ibrahim (32), Warjo Supriatna (54), dan Ining (64), beserta seluruh anggota keluarga mereka berhasil menyelamatkan diri sebelum atap rumah runtuh dimakan api.

Meski tak ada darah yang tumpah atau korban luka, kerugian materiil yang harus ditanggung ketiga warga tersebut tak main-main.

Bangunan fisik rumah beserta harta benda di dalamnya hangus menjadi arang. Total kerugian ditaksir menyentuh angka fantastis Rp 300 juta.

Load More