- Perburuan tiket mudik Lebaran 2026 dimulai dengan "war tiket" yang sulit, memaksa pemudik mencari rute alternatif estafet.
- Pemudik seperti Riza dan Rahma dari Bandung memilih transit di kota lain karena tiket langsung ke kampung halaman telah habis.
- KAI Daop 2 Bandung menyatakan kesulitan tiket disebabkan tingginya permintaan, bukan masalah teknis server pada masa puncak.
SuaraJabar.id - Tradisi mudik Lebaran 1447 Hijriah/2026 Masehi tidak hanya menguras keringat di jalan tol, tetapi pertarungannya sudah dimulai jauh hari di layar smartphone.
Fenomena berburu atau yang akrab disebut 'war tiket' kereta api, menjadi ujian kesabaran pertama bagi para perantau di Kota Bandung demi bisa sungkem dengan sanak saudara di kampung halaman.
Rabu malam (18/3/2026), antusiasme yang meledak-ledak itu terpotret jelas di peron Stasiun Kiaracondong. Ribuan lautan manusia berjejal menanti kedatangan "kuda besi" dengan wajah lelah namun penuh harap.
Di antara kerumunan itu, duduklah Riza (28). Ia membagikan sekelumit kisah perjuangannya menembus ketatnya war tiket menuju kampung halamannya di Purwokerto, Jawa Tengah. Baginya, rute tersebut ibarat mencari jarum di tumpukan jerami.
“Jujur, kalau mau ke Purwokerto dari sini itu tiketnya sulit sekali didapat. Pilihan kereta ekonominya sangat terbatas, hanya ada KA Serayu saja. Pas jadwal war tiket kemarin dibuka, server langsung penuh dan saya murni enggak kebagian,” keluh Riza.
Namun, semangat Riza tak lantas patah. Karena enggan terjebak stres kemacetan darat, ia memutar otak mencari celah.
Riza akhirnya mengambil siasat cerdas. Kereta Estafet. Ia sengaja memesan tiket ke rute terdekat yang kursinya masih tersedia. Pilihannya jatuh pada tiket dari Stasiun Kiaracondong menuju Kroya, Kabupaten Cilacap.
“Karena tiket direct (langsung) ke Purwokerto habis ludes, akhirnya saya ambil rute potong kompas ke Kroya dulu. Nanti dari stasiun sana baru nyambung langsung ke Purwokerto. Yang penting, besok pagi sudah cium tangan ibu di rumah. Pakai kereta itu harganya jadwal yang pasti dan anti-macet,” ujarnya.
Strategi estafet ala Riza rupanya diamini oleh pemudik lainnya. Pengalaman serupa dialami oleh Rahma (32), seorang perantau dengan tujuan akhir Kota Mojokerto, Jawa Timur.
Baca Juga: Sapi Ngamuk Lari 5 KM dari Nagreg ke Garut, Pemudik Motor Tumbang Diseruduk
Kepanikan sempat melandanya saat ia mendapati layar aplikasinya menunjukkan ketersediaan tiket dari stasiun utama (Stasiun Bandung) menuju kampung halamannya bersatus Sold Out (habis total).
Tak mau menyerah pada nasib, Rahma terus mengecek ketersediaan sisa kursi di seluruh stasiun penyangga. Dewi fortuna akhirnya tersenyum. Ia berhasil mengamankan satu kursi keberangkatan, namun harus bergeser naik dari Stasiun Kiaracondong.
Risikonya? Rahma harus rela berpindah kereta di tengah malam. Kursi yang ia dapatkan dari Kiaracondong itu rupanya hanya sanggup mengantarkannya setengah jalan, yakni bermuara di Stasiun Solo Balapan.
“Tiket dari Stasiun Bandung itu bener-bener sudah ludes. Akhirnya Alhamdulillah dapat sisaan di Kiaracondong untuk jurusan ke Solo. Nanti saya harus turun transit di Solo, lalu lanjut menyambung kereta api lagi menuju Mojokerto,” tutur Rahma.
Meski harus repot geret koper pindah kereta, bagi wanita 32 tahun ini, kereta api tetap menjadi kasta tertinggi transportasi jarak jauh.
Faktor keamanan yang terjamin dan waktu yang terukur adalah harga mati demi menghabiskan jatah cuti satu pekannya di kampung.
Berita Terkait
-
Sapi Ngamuk Lari 5 KM dari Nagreg ke Garut, Pemudik Motor Tumbang Diseruduk
-
Kantor Bapenda Gembok Pintu Selama Lebaran, Bayar PBB Ciamis Kini Segampang Checkout Online
-
Lupakan Macet Horor! Mudik Sambil Healing Lewat Jalur Pesisir Selatan Pangandaran
-
Ironi Kadeudeuh Rp 300 Ribu: Senyum Getir PPPK Paruh Waktu Pangandaran Jelang Lebaran
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Rp11,3 Triliun Digelontorkan, BNPP Fokus Benahi Empat Masalah Besar Kawasan Perbatasan RI
-
Iming-iming 'Dimudahkan Rezekinya', Modus Guru Ngaji Pelaku Pencabulan di Sukabumi
-
Sayembara Tangkap Begal Disorot, Kini Dedi Mulyadi Ajak Warga Buru Penjual Tramadol
-
Lagi! Guru Ngaji di Sukabumi Diduga Pelaku Pencabulan, Modusnya Bikin Geleng-geleng
-
Hajar Tampines Rovers 1-0, Igor Tolic Akui Fisik Skuad Persib Mulai Terkuras