Wakos Reza Gautama
Kamis, 19 Maret 2026 | 14:21 WIB
Ilustrasi Stasiun Kiaracondong. Antusias pemudik untuk pulang kampung di momen libur Lebaran Idulfitri 2026 terpotret di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Jawa Barat, pada Rabu 18 Maret 2026 malam. [ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi]
Baca 10 detik
  • Perburuan tiket mudik Lebaran 2026 dimulai dengan "war tiket" yang sulit, memaksa pemudik mencari rute alternatif estafet.
  • Pemudik seperti Riza dan Rahma dari Bandung memilih transit di kota lain karena tiket langsung ke kampung halaman telah habis.
  • KAI Daop 2 Bandung menyatakan kesulitan tiket disebabkan tingginya permintaan, bukan masalah teknis server pada masa puncak.

Menanggapi fenomena susahnya masyarakat menembus tiket Lebaran tahun ini, Manager Humasda KAI Daop 2 Bandung, Kuswardojo, angkat bicara. Ia sama sekali tak menampik keluhan para pemudik tersebut.

Namun, Kuswardojo meluruskan satu hal: kesulitan mendapat tiket itu bukan karena server KAI yang bermasalah atau rusak secara teknis, melainkan murni karena ledakan demand (permintaan) yang tak sebanding dengan kapasitas gerbong pada tanggal-tanggal favorit menjelang Idulfitri.

“Betul, keluhan sulit dapat tiket itu adalah fenomena wajar yang selalu langganan terjadi di peak season (puncak masa angkutan) Lebaran. Ini murni karena minat masyarakat Jawa Barat menggunakan jasa kereta api untuk pulang kampung itu begitu tinggi dan membludak di hari yang bersamaan,” papar Kuswardojo mengklarifikasi.

Pernyataan Kuswardojo diamini oleh data real-time malam itu. Memasuki puncak arus mudik pada Rabu malam, statistik mencatat lonjakan ekstrem. Hanya dari satu titik pemberangkatan (Stasiun Kiaracondong) saja, KAI sukses memberangkatkan sekitar 5.800 pengguna jasa.

Sebagai perbandingan betapa gilanya lonjakan tersebut, Kuswardojo membeberkan bahwa di hari-hari biasa (low season), stasiun legendaris ini rata-rata "hanya" melayani sekitar 3.000 penumpang dalam tempo 24 jam.

“Prediksi kami, malam ini memang titik puncaknya. Angka 5.800 penumpang itu murni tercatat untuk batch keberangkatan malam ini saja, dan counter (hitungan) kemungkinan masih terus bertambah hingga boarding terakhir pukul 00.00 WIB nanti. Padahal normalnya kapasitas kita hanya 3.000 per hari,” pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di website harapanrakyat.com media jaringan Suara.com dengan judul "Cerita Pemudik di Stasiun Kiaracondong, Rela War Tiket hingga Transit Demi Pulang Kampung"

Load More