Wakos Reza Gautama
Kamis, 26 Maret 2026 | 16:50 WIB
Dua anak harimau bernama Huru dan Hara yang merupakan koleksi Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) mati terkena serangan virus. [Dok Kebun Binatang Bandung]
Baca 10 detik
  • Dua anak Harimau Benggala bernama Huru dan Hara meninggal di Kebun Binatang Bandung akibat positif Feline Panleukopenia Virus (FPV).
  • Hara mati pada Selasa, 24 Maret 2026, dan Huru menyusul pada Kamis, 26 Maret 2026, meskipun upaya medis telah dilakukan.
  • Wali Kota Bandung menekankan perlunya peningkatan radikal standar biosecurity dan sterilisasi kandang pasca tragedi tersebut.

SuaraJabar.id - Langit Kota Kembang seolah ikut meredup meratapi kepergian dua ikon mungil kebanggaannya. Huru dan Hara, sepasang anak Harimau Benggala yang baru saja menginjak usia 8 bulan, harus menghembuskan napas terakhirnya di kandang Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo).

Keduanya tak takluk oleh pertarungan sesama predator, melainkan oleh serangan musuh tak kasat mata, sebuah virus ganas mematikan bernama Panleukopenia.

Kematian dua "bayi" kucing besar kesayangan pengunjung ini turut menyayat hati Wali Kota Bandung, M. Farhan. Ia menyampaikan belasungkawa dan duka mendalam atas hilangnya aset konservasi berharga tersebut.

Berdasarkan hasil uji laboratorium resmi yang dirilis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Huru dan Hara divonis positif terinfeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV).

Virus kejam ini diketahui menyerang dan menghancurkan sistem kekebalan tubuh inangnya dengan tingkat fatalitas (mortality rate) yang sangat tinggi, terutama pada kelompok famili kucing besar yang masih berusia muda.

“Secara pribadi dan atas nama warga kota, saya sangat sedih mengetahui dua ekor anak harimau kita ini harus mati di usia yang sangat belia. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan dengan jelas bahwa keduanya positif terkena infeksi Panleukopenia,” ungkap Wali Kota Farhan dengan nada prihatin, Kamis (26/3/2026).

Kisah kepergian dua anak dari indukan harimau bernama Shah Rukh Khan dan Jelita ini berlangsung sangat singkat dan tragis. Keduanya, yang lahir ke dunia pada 12 Juli 2025 lalu, seolah tak diberi waktu untuk melawan.

Hara menjadi korban pertama yang tumbang. Ia dinyatakan mati pada Selasa, 24 Maret 2026. Selang dua hari kemudian, tepat di hari Kamis, 26 Maret 2026, saudara kembarnya, Huru, menyusul menghembuskan napas terakhirnya direnggut oleh virus yang sama.

Farhan membeberkan bahwa kecepatan virus Panleukopenia dalam melumpuhkan tubuh Huru dan Hara benar-benar di luar dugaan.

Baca Juga: Lolos dari Jerat Majikan dan TPPO! Tangis Haru Pecah Saat Dua PMI Asal Banjar Tiba di Tanah Air

Meskipun tim dokter hewan Kebun Binatang Bandung telah mengerahkan seluruh upaya maksimal dan life-saving (penyelamatan nyawa), takdir berkata lain.

“Virus yang menyerang mereka berdua ini punya tingkat keganasan yang luar biasa. Sifatnya langsung akut dan mematikan. Saking cepatnya virus ini merusak organ, proses penanganan medis yang dilakukan tim dokter hewan kita memang tidak sempat mencegah terjadinya kematian,” sesal Farhan.

Bagi Pemkot Bandung, insiden pilu ini bukan sekadar berita duka kematian satwa, melainkan tamparan keras yang menjadi pelajaran berharga (wake-up call) bagi seluruh pihak pengelola konservasi.

Meskipun virus mematikan ini secara spesifik memang biasa menjangkiti kelompok kucing besar di usia muda, Farhan menegaskan bahwa mitigasi pencegahan (biosecurity) harus dinaikkan levelnya secara radikal.

Terlebih lagi, benteng Kebun Binatang Bandung berdiri megah tak jauh dari pusat kota dan dikelilingi langsung oleh lanskap permukiman padat penduduk.

“Apa yang bisa dan harus kami lakukan sekarang adalah mutlak meningkatkan standar biosecurity (keamanan biologis lingkungan) di seluruh area satwa. Apalagi, Kebun Binatang Bandung ini sejak dulu adalah magnet yang banyak menyedot ribuan pengunjung setiap harinya,” tegas mantan presenter kondang tersebut.

Load More