Ronald Seger Prabowo
Selasa, 27 Oktober 2026 | 14:08 WIB
Masyarakat Fakfak kini dapat menikmati akses air bersih. Fasilitas ini berasal dari enam Instalasi Pengolahan Air buatan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran (TEP Unpad). Instalasi tersebut mengolah air dari sumur-sumur bor buatan TNI. [Suara.com/dok]
Baca 10 detik
  • Tim Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran memasang enam instalasi pengolahan air bersih di Kabupaten Fakfak pada Oktober 2026.
  • Fasilitas teknologi Water Treatment Plant tersebut berfungsi untuk menyaring dan menaikkan tingkat keasaman air sumur bor warga.
  • Pemasangan instalasi ini bertujuan mengatasi persoalan air berbau karat demi meningkatkan kesehatan dan kemandirian masyarakat.

SuaraJabar.id - Air sumur yang tampak jernih belum tentu layak dikonsumsi. Kondisi itu dialami warga kawasan Bomberay–Tomage, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, yang selama ini menghadapi persoalan kualitas air tanah.

Kini, masyarakat di enam kampung mendapat akses fasilitas pengolahan air bersih melalui pemasangan enam instalasi pengolahan air buatan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran (TEP Unpad).

Instalasi tersebut mengolah air dari sumur bor yang dibangun TNI. Melalui teknologi Water Treatment Plant (WTP) Pasoepati Padjadjaran, air diolah untuk memperbaiki kualitasnya, termasuk menaikkan tingkat keasaman atau pH.

Kepala Kampung Wonorejo, Aan, mengungkapkan, selama ini air sumur warga memang terlihat jernih ketika ditimba. Namun, air tersebut berbau karat dan meninggalkan endapan pekat setelah didiamkan.

Persoalan itu diperkuat hasil kajian TEP Unpad bersama Puskesmas Bomberay sejak Agustus 2026. Tim melakukan pengujian parameter air, pengukuran tinggi muka air tanah, serta pemetaan kondisi air di sejumlah titik di kawasan Bomberay–Tomage.

Hasil pengujian menunjukkan tingkat keasaman air di sejumlah lokasi cukup tinggi. Nilai pH air di salah satu titik mencapai 5,2, sedangkan di kawasan Tomage berkisar 4.

Ketua TEP Unpad, Dr. Eddy Renaldi, S.P., M.E., mengatakan kondisi tersebut membutuhkan teknologi pengolahan air yang mudah digunakan dan dirawat oleh masyarakat setempat.

"Kadar pH air di salah satu lokasi mencapai 5,2. Di Tomage bahkan berkisar di angka 4. Karena itu, warga membutuhkan teknologi pengolahan air yang mudah diterapkan dan dirawat. Kami mengembangkan WTP Pasoepati Padjadjaran sebagai solusi. Alat ini tidak hanya menyaring air, tetapi juga menaikkan pH agar layak dikonsumsi," ujar Eddy, Selasa (27/10/2026).

Enam Kampung Jadi Lokasi Pemasangan

Baca Juga: Per 10 Maret 2025, Peserta BPJS Kesehatan Bisa Akses Berbagai Fasilitas Medis Rumah Sakit Unpad

Sepanjang Oktober 2026, TEP Unpad melakukan uji coba lapangan sekaligus memasang enam instalasi pengolahan air di Kampung Mekarsari, Thessa, Onim Jaya, Mbima Jaya, Wonorejo, dan Pinang Agung.

Pemasangan fasilitas tersebut didukung aparat TNI dan pemerintah kampung setempat. Setelah sosialisasi tata kelola pada Minggu (25/10/2026), tim menyerahkan instalasi kepada masyarakat pada Senin (26/10/2026).

Program ini melengkapi penyediaan sumber air melalui sumur bor bantuan TNI di kawasan Bomberay–Tomage. Jika sumur bor menyediakan akses terhadap sumber air, instalasi pengolahan yang dikembangkan TEP Unpad berperan meningkatkan kualitas air sebelum digunakan masyarakat.

Kolaborasi tersebut diharapkan membantu menjawab persoalan akses air bersih di kawasan transmigrasi, sekaligus memperkuat pemanfaatan hasil riset perguruan tinggi untuk kebutuhan dasar masyarakat.

Dorong Kemandirian Air Bersih

Penyediaan fasilitas pengolahan air ini juga berkaitan dengan persoalan akses air bersih yang menjadi perhatian pemerintah pusat. Dalam Sidang Tahunan MPR RI pada 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menyoroti masih banyaknya masyarakat yang harus menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh air bersih.

Load More