"Tidak menutup kemungkinan terpengaruh kondisi psikisnya, tapi kami belum tahu detail. Kalau faktor ekonomi tidak menjadi persoalan karena mereka punya penghasilan," ucap dia.
Disinggung kondisi kedua anak dan PS, dia menyebut dalam kondisi baik, bahkan kemarin kedua anaknya sudah kembali ke rumah.
"PS juga sudah kembali pulang dengan rekomendasi ke keluarganya anak dibawa ke Rumah Sakit Jiwa," ujar Kompol Winarsa.
Sementara itu, ketua RT tempat PS dan keluarga tinggal di Desa Citalang, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Neneng Komariah mengatakan, keseharian PS jual beli genteng dan biasa membawa kendaraan roda empat. Sementara istrinya membuka warung.
Baca Juga:Kecelakaan Maut Tol Cipularang, Satu Penumpang Elf Meninggal Dunia
"Yah biasa normal, sama tetangga juga biasa baik. Mereka juga gak pernah bertengkar," ujar dia.
Pada saat kejadian, kondisi rumah dalam keadaan terkunci dan dibuka oleh anak yang pertama. Di dalam anak dan PS sudah tergeletak.
"Di dalam ditemukan ada darah bertetesan. Terus dimulutnya berbusa. Istrinya panik dan minta tolong lalu PS dan kedua anaknya dibawa ke rumah sakit diantar ambulans desa," kata Neneng.
Miliki Rekam Medis di Poli Kejiwaan
PS kini tengah mendapat perawatan di RSUD Bayu Asih Purwakarta. Ia mengalami luka di lengan juga leher diduga akibat sayatan senjata tajam.
Baca Juga:Kisah Nyata Black Widow, Wanita Kejam Pembunuh Pacar Pakai Racun Tikus
PS diduga melukai dirinya sendiri setelah memberikan berupa cairan yang membuat kedua anaknya juga dibawa ke rumah sakit.
Direktur RSUD Bayu Asih Purwakarta, dr. Agung Darwis Suriaatmadja membenarkan jika pasien (PS) mengalami luka pada bagian lengan juga leher, bahkan nampaknya pasien ini juga minum cairan sama yang diberikan terhadap kedua anaknya. Namun secara umum kondisinya baik.
Pihak rumah sakit memutuskan membuka medical records (rekam medis) dan ditemukan pasien ini member atau langganan di poli dokter kejiwaan.
"Hasil rekam medis itu kami berencana merujuk pasien ini ke Rumah Sakit Jiwa Cisarua Bandung," ujar dia, Rabu 8 September 2021.
Dia menjelaskan, rekam medis pasien menunjukan halusinasi pendengaran, dapat dikatakan kondisinya tidak cukup sehat.
"Ini saya sampaikan mungkin hukumannya berbeda, karena kondisinya tidak cukup sehat," kata dr. Agung.
Disinggung apa yang diminum pasien, dr. Agung menyebut berupa cairan namun tidak tahu cairan apa yang membuat pasien juga diduga keracunan.