facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Mengintip Gedung Tempat Dansa-dansi Tentara Kolonial dan Noni-noni di Cimahi

Ari Syahril Ramadhan Minggu, 23 Januari 2022 | 06:00 WIB

Mengintip Gedung Tempat Dansa-dansi Tentara Kolonial dan Noni-noni di Cimahi
Gedung The Historich di Kota Cimahi yang duluna bernama Societeiet voor Officieren. [Suara.com/Ferrye Bangkit Rizki]

Ia menduga arsitekturnya adalah Kapten der Genie Fischer bersama asistennya VL Slors, yang memimpin pembangunan Garnizun di Cimahi.

SuaraJabar.id - Di Jalan Gatot Subroto, Kota Cimahi terdapat sebuah gedung tua yang masih berdiri kokoh. Gedung itu merupakan peninggalan pemerintahan Hindia-Belanda.

Gedung yang didominasi warna putih itu dinamakan The Historich. Mulai dibangun saat masa pemerintahan kolonialisme Belanda tahun 1895.

Dulunya gedung tersebut digunakan sebagai tempat berkumpul dan hiburan, khususnya tentara Belanda.

"Jadi ketika itu tentara-tentara kan lelah sehabis bertempur atau latihan. Maka hiburannya di gedung itu. Di sana ada teater, dansa, pertunjukan film," terang pegiat sejarah, Machmud Mubarok saat dihubungi Suara.com pada Jumat (21/1/2022).

Baca Juga: Ribuan Tenaga Honorer di Cimahi dan Bandung Barat Terancam Jadi Pengangguran

Sebelum dinamakan The Historich, gedung tersebut dinamakan Societeiet voor Officieren. Ketika pindah tangan ke TNI AD, namanya kemudian berganti menjadi Balai Prajurit Sudirman, hingga akhirnya berubah lagi menjadi The Historich.

Dari segi arsitektur, gedung The Historich mengadopsi gaya indische empire stijl. Gaya arsitektur itu dipengaruhi oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36, Herman Willem Daendels, yang menginginkan bangunan-bangunan yang bergaya Romawi dan Yunani.

Pada bagian luar, bangunan zaman Belanda masih tak berubah hingga kini. Begitupun pada bagian dalam gedung. Ada beberapa bagian di dalamnya, seperti panggung permanen dan beberapa ruangan yang tak mengalami perubahan.

"Kalau yang societet itu punya ciri tiangnya ionic atau bergelung. Jadi kalau kita lihat kolom, nanti di atasnya itu ada gelung," ujar Machmud.

Di balik kemegahan dan kekokohannya, arsitek yang membuat The Historich hingga kini belum diketahui secara pasti.

Baca Juga: Lestarikan Bangunan Publik Bersejarah Lewat Kompetisi Desain Arsitektur

Machmud belum memiliki catatan pastinya. Hanya saja ia menduga arsitekturnya adalah Kapten der Genie Fischer bersama asistennya VL Slors, yang memimpin pembangunan Garnizun di Cimahi.

Kini Gedung The Historich kerap digunakan untuk ajang pernikahan, pertemuan, pameran UKM, seminar, dan lainnya. Gedung tersebut bukan dikelola Pemkot Cimahi.

Kepala Bidang Kebudayaan dan Pariwisata pada Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi, Nursaleh mengatakan, Gedung The Historich menjadi salah satu kandidat untuk dikaji menjadi cagar budaya tahun ini.

"Tahun ini kami targetkan hanya satu yang akan dijadikan cagar budaya. Yaitu The Historich atau Stadion Cimahi," terangnya.

Dikatakannya, sejauh ini di Kota Cimahi baru ada dua objek yang sudah ditetapkan menjadi Cagar budaya melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota, yakni Penjara Poncol dan Rumah Sakit Dustira.

"Kalau dugaannya di Cimahi itu ada sekitar 51 objek Cagar budaya," ucap Nursaleh.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait