Viral Air Minum Aquviva! Berawal Murah Meriah, Kini Diprotes Konsumen Diduga Rasa Air Keran

Praktisi komunikasi pemasaran di LSPR Institute, Safaruddin Husada berpendapat bahwa langkah awal Aquviva memang dirancang dengan sangat baik untuk mendobrak pasar.

Andi Ahmad S
Rabu, 06 Mei 2026 | 20:08 WIB
Viral Air Minum Aquviva! Berawal Murah Meriah, Kini Diprotes Konsumen Diduga Rasa Air Keran
Ilustrasi air minum dalam kemasan Aquaviva. (Pexels)
Baca 10 detik
  • Wings Group meluncurkan merek Aquviva pada Februari 2025 dengan harga murah untuk menantang dominasi pasar AMDK di Indonesia.
  • Strategi promosi masif berhasil meningkatkan jumlah uji coba konsumen namun kini menghadapi tantangan retensi yang cukup serius.
  • Konsumen mengeluhkan kualitas rasa serta sumber air PDAM yang digunakan Aquviva di pabrik Cikarang pada April 2026.

Kekecewaan sensorik ini memuncak ketika fakta mengenai sumber air Aquviva perlahan terbongkar ke publik.

Kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke pabrik PT Tirta Alam Segar di Cikarang pada April 2026 mengungkap bahwa pasokan air baku Aquviva diperoleh dari pengelola kawasan industri MM2100 yang terhubung dengan Perumda Tirta Bhagasasi, yakni PDAM Kabupaten Bekasi.

Penggunaan air PDAM olahan atau air sumur bor ini memicu reaksi keras dari konsumen yang selama ini mengasosiasikan AMDK berkualitas dengan mata air pegunungan.

Pengguna X @HanafiPutro mencuit, 'Air nya aquviva kan hasil bor tanah, cek aja di pabrik nya bekasi. Jadi ya ada rasa air keran ny'.

Baca Juga:Mogok di Rel Kereta? Korlantas Polri Evaluasi Keamanan Mobil Listrik Usai Kecelakaan Maut Bekasi

Sementara itu, kekhawatiran yang lebih ekstrem diungkapkan oleh @RakhmatHendra “Eksistensi tapi air nya gak di benahi, gila aja makek air sumur bor di bekasi. Terus banyak orang kapok minum aquviva karna sakit ke tenggorokan juga.”

Di tengah rentetan sentimen negatif ini, terdapat upaya kuat dari pihak merek untuk terus membingkai (framing) narasi bahwa Aquviva adalah sebuah kesuksesan besar.

Narasi kesuksesan ini terus digaungkan, seolah menutupi kelemahan fundamental pada kualitas produk. Padahal, pakar pemasaran memperingatkan bahwa taktik ini sangat rentan gagal dalam jangka panjang. Safaruddin menggarisbawahi perbedaan krusial antara uji coba awal dan pembelian ulang.

“Promosi memang dapat meningkatkan penjualan jangka pendek, tetapi jarang menciptakan loyalitas jangka panjang jika tidak disertai diferensiasi yang jelas,” ujar Safaruddin.

Baca Juga:Fakta-fakta Mengejutkan Kecelakaan Kereta Bekasi Timur dan Potensi Masalah Taksi 'Green SM'

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak