- BMKG mengimbau pelaku pelayaran agar mewaspadai potensi gelombang tinggi satu hingga empat meter di berbagai perairan Indonesia pada 14–17 September.
- Peningkatan kecepatan angin dan perubahan pola angin di utara serta selatan ekuator menjadi pemicu utama kemunculan gelombang tinggi tersebut.
- Berbagai jenis kapal seperti perahu nelayan, tongkang, hingga kapal feri memiliki tingkat risiko bahaya tersendiri akibat kondisi cuaca ekstrem ini.
SuaraJabar.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau para pelaku pelayaran kapal angkutan penumpang, pariwisata, hingga nelayan untuk mewaspadai potensi gelombang tinggi setinggi 1 hingga 4 meter. Fenomena ini diperkirakan terjadi di sejumlah perairan Indonesia pada 14–17 September.
Plt. Direktur Meteorologi Maritim BMKG, Agie Wandala Putra, menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh perubahan pola dan peningkatan kecepatan angin.
"Pola angin dan peningkatan kecepatan angin terpantau memicu tinggi gelombang harian yang dapat mengancam keselamatan aktivitas pelayaran di wilayah perairan Indonesia," ujar Agie dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin.
Agie memaparkan pergerakan angin di utara ekuator bertiup dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 4-25 knot, sedangkan di selatan ekuator bertiup dari timur hingga tenggara pada kecepatan 8-25 knot.
Baca Juga:Kemarau Jabar: 325 Hektare Lahan Terbakar dan 215 Ribu KK Terdampak Kekeringan
Tim meteorologi maritim BMKG mendeteksi kecepatan angin tertinggi berlangsung di Samudra Hindia barat Bengkulu, Laut Jawa, Selat Makassar selatan, Laut Maluku utara, serta Laut Arafuru.
Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memicu gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di berbagai perairan, seperti Selat Karimata, Laut Jawa, Laut Bali, Laut Flores, Selat Makassar, Laut Banda, Laut Arafuru, hingga Samudra Pasifik utara Papua.
Sementara itu, gelombang sangat tinggi pada kisaran 2,5 hingga 4,0 meter berpeluang terjadi di Selat Malaka bagian utara serta perairan Samudra Hindia yang membentang dari barat Aceh, Kepulauan Nias, Mentawai, Bengkulu, Lampung, hingga selatan Jawa, Bali, NTB, dan NTT.
BMKG mengingatkan perahu nelayan rawan beroperasi pada kecepatan angin di atas 15 knot dengan tinggi gelombang melebihi 1,25 meter. Kapal tongkang berisiko pada angin di atas 16 knot dan gelombang 1,5 meter, sedangkan kapal feri atau angkutan penumpang rawan saat angin menembus 21 knot dan gelombang melebihi 2,5 meter.
"Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di kawasan pesisir juga diminta untuk tetap waspada guna mengantisipasi dampak gelombang tinggi selama beberapa hari ke depan," kata Agie. [Antara].
Baca Juga:Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Bandung, Bandara Husein Sastranegara Ditutup Sementara