- Yandi, pekerja serabutan asal Sukabumi, tinggal di rumah lapuk bersama kedua anaknya.
- Keluarga tersebut belum menerima bantuan sosial karena masih tercatat dalam kategori desil 5.
- Pemerintah Desa Tanjung berupaya mengusulkan perubahan status desil Yandi melalui Puskesos setempat.
SuaraJabar.id - Yandi (35), warga Kampung Cihaurseah, Desa Tanjung, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, harus berjuang membesarkan dua anaknya seorang diri di rumah panggung yang lapuk dan terancam ambruk.
Pekerja serabutan itu tinggal bersama Silpa Aulia (11) dan Arip Rahmadi (7) di rumah berukuran 6 x 7 meter. Sejumlah kayu penyangga telah lapuk, dinding bilik bambu berlubang, atap bocor, bahkan bagian dapur sudah roboh.
Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan saat hujan deras mengguyur wilayah itu. Sementara, penghasilan Yandi tidak menentu karena ia harus membagi waktu antara bekerja dan mengurus kedua anaknya yang masih bersekolah.
Tokoh masyarakat setempat, Asep Guntur, mengatakan Yandi dikenal rajin bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya kesulitan memperbaiki rumah.
Baca Juga:Politisi PDIP Sukabumi Copot Foto Gibran di Ruang Kerja
Saat menelusuri status kesejahteraan keluarga tersebut, Asep menemukan Yandi tercatat dalam desil 5 sehingga selama ini belum tersentuh bantuan sosial.
“Khawatir sekali menghadapi musim hujan. Di situ ada dua anak kecil, takut rumahnya ambruk total, apalagi bagian belakangnya sudah ambruk duluan,” kata Asep melansir Sukabumiupdate--jaringan Suara.com, Kamis (15/10/2026).
Kepala Desa Tanjung, Dasep Taofiqul Hikmah, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan pemerintah desa sedang mengusulkan perubahan status desil Yandi melalui Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) agar keluarganya berpeluang memperoleh bantuan sosial.
Terkait bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), Dasep menyebut belum ada usulan dari Desa Tanjung yang terealisasi melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Sukabumi. Pihak desa telah melaporkan kondisi rumah Yandi kepada Kecamatan Jampangkulon.
Di tengah kondisi rumah yang membahayakan, Yandi dan kedua anaknya kini masih menanti tindak lanjut pemerintah agar mendapat tempat tinggal yang lebih aman.
Baca Juga:Bejat! Guru Ngaji di Sukabumi Diduga Cabuli Murid Laki-laki, Polisi Temukan Tujuh Korban