- Warga Cluster Coatesville Bogor berselisih pada Oktober 2026 akibat pembangunan gazebo di fasilitas umum yang dinilai terlalu besar dan mengganggu estetika.
- Pembangunan struktur tersebut memicu protes karena dikhawatirkan menurunkan nilai properti warga hingga empat puluh persen serta menimbulkan gangguan kesehatan.
- Warga menuntut evaluasi menyeluruh agar desain gazebo disesuaikan secara proporsional dan melibatkan pihak yang terdampak langsung dalam perencanaan.
SuaraJabar.id - Niat memiliki hunian yang asri dan tenang di kawasan elite Cluster Coatesville, Kota Wisata, Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, kini justru berujung perselisihan di antara warga.
Perselisihan tersebut dipicu pembangunan struktur yang direncanakan sebagai gazebo di atas lahan fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos-fasum).
Bangunan itu dipersoalkan karena dinilai tidak sesuai dengan kesepakatan awal, mengganggu estetika lingkungan, serta berpotensi menurunkan nilai properti warga di sekitarnya.
Salah seorang warga Cluster Coatesville, Yani Handayani, mengaku menjadi pihak yang merasakan langsung dampak pembangunan tersebut.
Baca Juga:Braakk! Kecelakaan Elf dan Honda BR-V di Puncak Bogor, Satu Orang Meninggal Dunia
Sejak membeli rumah pada 2013, ia berharap dapat menikmati pemandangan hijau dan suasana tenang karena lokasi huniannya berada tepat di depan taman.
Namun, harapan itu berubah setelah muncul bangunan baru di lahan fasos-fasum tersebut.
Menurut Yani, bangunan yang direncanakan sebagai gazebo itu memiliki ukuran terlalu besar, tinggi, dan berdinding tebal sehingga dinilai jauh berbeda dari konsep gazebo yang umumnya terbuka dan menyatu dengan lanskap taman.
“Ternyata kok kaget-kaget ya jadinya tinggi dan besar sekali. Ini kok kayak posdes jadinya. Dan ini bukannya gazebo menurut saya. Kalau gazebo tuh tanpa bangunan ini nih tembok-tembok, mekar,” ungkap Yani saat memberikan keterangan kepada awak media, Sabtu (17/10/2026).
Selain mengubah tampilan taman, Yani menilai keberadaan bangunan tersebut turut mengurangi kenyamanan di dalam rumahnya. Struktur yang tinggi disebut memantulkan panas ke arah kamar utama di lantai dua.
Baca Juga:Siap-siap Regenerasi! Jukir Lansia di Kota Bogor Bakal Pensiun, Ini Syarat Penggantinya
Perselisihan semakin meruncing karena warga yang terdampak langsung merasa tidak dilibatkan secara memadai dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan pembangunan.
Yani menilai gambar rancangan yang dipajang di lokasi tidak menggambarkan kondisi fisik bangunan yang akhirnya berdiri.
Perbedaan antara visualisasi awal dan hasil pembangunan tersebut menjadi salah satu sumber keberatan warga.
Ia juga mengaku tidak pernah menerima undangan ataupun mengikuti rapat sosialisasi yang membahas spesifikasi bangunan secara terperinci, termasuk tinggi dan lebarnya, sebelum pekerjaan dimulai.
Menurut Yani, mekanisme pengambilan keputusan melalui pemungutan suara atau voting juga perlu dievaluasi apabila warga yang merasakan dampak langsung tidak seluruhnya dilibatkan.
“Pengambilan keputusan melalui sistem voting dinilai tidak adil jika tidak menghadirkan seluruh warga yang terdampak langsung di sekitar taman,” ujarnya.
Selain persoalan estetika dan kenyamanan, dampak pembangunan terhadap nilai properti menjadi salah satu kekhawatiran utama warga.
Yani mengaku telah berkonsultasi dengan pihak manajemen perumahan mengenai potensi dampak keberadaan bangunan tersebut terhadap harga jual rumahnya.
Berdasarkan penuturannya, ia mendapat informasi bahwa nilai properti di sekitar taman berpotensi mengalami penurunan.
“Saya sudah tanya sama manajemen... 'Kalau saya tanya nilai properti saya berapa, ini gimana Pak?' 'Wah itu pasti turun Bu Yani, kurang lebih bisa 30 persen hingga 40 persen. Kan dari segi material kita sudah dirugikan,” tegasnya.
Meski demikian, perkiraan penurunan nilai properti sebesar 30 hingga 40 persen tersebut merupakan keterangan yang disampaikan Yani berdasarkan percakapannya dengan pihak manajemen.
Besaran penurunan nilai jual rumah tersebut masih memerlukan verifikasi melalui penilaian properti yang independen.
Dampak pembangunan, lanjut Yani, tidak hanya berkaitan dengan aspek visual dan finansial, tetapi juga kenyamanan, kesehatan, serta hubungan sosial antarwarga.
Ia menuding aktivitas konstruksi berlangsung pada waktu yang mengganggu kenyamanan penghuni, mulai sekitar pukul 05.30 WIB, pada hari libur atau akhir pekan, hingga malam hari.
Menurutnya, kebisingan pekerjaan konstruksi yang berlangsung bersamaan dengan tekanan akibat konflik turut memicu kambuhnya penyakit lambung yang dideritanya. Yani mengaku harus menjalani perawatan medis sebanyak dua kali.
Di sisi lain, ia juga mengaku mengalami tekanan sosial setelah menyampaikan keberatan terhadap pembangunan tersebut.
Yani mengatakan dirinya mendapat perlakuan tidak menyenangkan di grup komunikasi warga, bahkan disoraki ketika menyampaikan pendapat.
Kondisi tersebut, menurutnya, membuat sebagian warga lain yang juga merasa terdampak memilih tidak menyampaikan keberatan secara terbuka karena khawatir menghadapi tekanan sosial serupa.
Atas berbagai persoalan tersebut, Yani menyatakan warga terdampak menginginkan evaluasi menyeluruh terhadap pembangunan di lahan fasos-fasum tersebut.
Ia menegaskan, keberatan warga bukan berarti menolak keberadaan fasilitas publik. Mereka meminta agar kondisi taman dikembalikan seperti semula atau dilakukan penataan ulang sehingga fungsi ruang terbuka dan kenyamanan lingkungan tetap terjaga.
Apabila pembangunan gazebo tetap dilanjutkan, warga berharap desain dan ukurannya dibuat lebih proporsional, terbuka, tidak menghalangi pandangan, serta selaras dengan estetika rumah-rumah di sekitarnya.
“Jika tetap dibangun gazebo, ukurannya harus proporsional, berdesain terbuka, tidak mengganggu pandangan, serta selaras dengan estetika bangunan rumah di sekitarnya,” tegasnya.
Warga berharap pihak terkait dapat meninjau kembali perencanaan pembangunan tersebut dengan melibatkan warga yang terdampak langsung, sehingga solusi yang dihasilkan dapat mengakomodasi kepentingan bersama sekaligus menjaga kenyamanan dan kualitas lingkungan hunian.