- Local Media Summit mengadakan diskusi di Bandung pada Kamis untuk membahas krisis pendapatan media lokal.
- Media lokal didorong menerapkan model bisnis Beyond Media guna mencari pendapatan tambahan di luar aktivitas jurnalistik.
- Perubahan perilaku audiens dan kecerdasan buatan menuntut media lokal menyesuaikan strategi distribusi konten digital.
SuaraJabar.id - Industri media lokal di Indonesia menghadapi tantangan besar seiring pemangkasan anggaran publikasi pemerintah daerah dan penurunan pendapatan iklan. Kondisi ini mendorong media untuk mencari sumber pendapatan baru agar tidak lagi bergantung pada anggaran pemerintah.
Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) Kolaborasi Pengembangan Ekosistem Media Lokal yang digelar Local Media Summit (LMS) di Harris Hotel, Kota Bandung, Kamis (8/10/2026).
FGD ini menjadi bagian dari upaya mencari strategi keberlanjutan media lokal di tengah perubahan perilaku audiens, perkembangan teknologi digital, hingga kemunculan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Salah satu inisiator LMS sekaligus Pemimpin Redaksi Suara.com, Suwarjono, mengatakan kondisi industri media saat ini jauh berbeda dibandingkan awal tahun. Bahkan, sejumlah pengelola media mulai mempertanyakan keberlanjutan bisnis mereka untuk menghadapi 2027.
Baca Juga:Jeritan Ojol Hingga Buruh di Bogor Dalam Bayang-bayang Angka Kemiskinan
"Beberapa teman sudah report, 'Wah, Mas, kami betul-betul kayaknya kondisi sudah masuk IGD, sehingga kita butuh refresh lagi, kemungkinan tahun depan model bisnis media itu seperti apa?'" kata Suwarjono.
Menurut Suwarjono, jurnalisme tetap menjadi inti bisnis media. Namun, pendapatan dari aktivitas jurnalistik kini semakin sulit untuk menutupi seluruh biaya operasional perusahaan media.
"Jurnalisme tidak bisa membiayai operasional media, sehingga media harus dibiayai oleh usaha yang lain," ujarnya.
Karena itu, pengelola media didorong mengembangkan setidaknya dua hingga tiga sumber pendapatan tambahan. Peluang tersebut antara lain melalui jasa agensi lokal, pengelolaan media sosial, produksi video dan dokumenter, penyelenggaraan acara, pelatihan, riset, hingga survei.
Strategi ini dikenal dengan pendekatan Beyond Media, yakni mengembangkan bisnis di luar aktivitas pemberitaan tanpa meninggalkan fungsi utama media sebagai penyedia informasi publik.
Baca Juga:KPK Peringatkan Menteri ATR Nusron Wahid Tak Ulur Waktu di Kasus Korupsi Summarecon
"Harapannya tadi dari sini kita membangun beyond medianya. Karena sebetulnya dari kekuatan di banyak sekali irisan kita dengan bisnis yang lain yang bisa kita kerjakan dan kita bisa trial," tutur Suwarjono.
Ia menilai media lokal memiliki modal penting untuk mengembangkan bisnis tersebut, yakni jaringan yang telah terbentuk melalui aktivitas jurnalistik.
Jaringan itu mencakup pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, tokoh lokal, hingga kalangan ahli. Jika dipetakan dan dikelola dengan baik, jaringan tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai program maupun produk yang menghasilkan pendapatan.
"Kekuatan kita itu adalah di jaringan, network. Saya yakin yang membuat kita masih punya pemberi pekerjaan, itulah kekuatan di networking," ucapnya.
Selain persoalan pendapatan, perubahan perilaku audiens juga menjadi tantangan bagi media lokal. Generasi Z, misalnya, dinilai semakin terbiasa mengakses informasi melalui media sosial, mesin pencari, dan platform berbasis AI dibandingkan membuka situs berita secara langsung.
"Gen Z tidak ada yang membaca website. Tapi kontennya kita yang ada di website, semua beralih, tidak dibaca secara langsung di website kita," katanya.