- Local Media Summit mengadakan diskusi di Bandung pada Kamis untuk membahas krisis pendapatan media lokal.
- Media lokal didorong menerapkan model bisnis Beyond Media guna mencari pendapatan tambahan di luar aktivitas jurnalistik.
- Perubahan perilaku audiens dan kecerdasan buatan menuntut media lokal menyesuaikan strategi distribusi konten digital.
Menurut Suwarjono, kondisi tersebut menuntut media untuk menyesuaikan format dan strategi distribusi konten berdasarkan karakter masing-masing platform.
Media sosial dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan berita terkini atau breaking news, sementara situs berita diarahkan untuk menyajikan informasi yang lebih mendalam, analisis, dan laporan lanjutan.
"Kalau breaking news di sosmed, baru kalau pendalaman di website. Jadi soal kecepatan, itulah sosmed," ujarnya.
Di sisi lain, perkembangan AI juga membuka peluang baru bagi media melalui strategi Generative Engine Optimization (GEO). Strategi ini bertujuan meningkatkan peluang konten media menjadi rujukan dalam jawaban yang dihasilkan mesin AI.
Baca Juga:Jeritan Ojol Hingga Buruh di Bogor Dalam Bayang-bayang Angka Kemiskinan
"Kalau SEO itu untuk melayani orang googling. Nah, sekarang GEO (Generative Engine Optimization) melayani orang prompting," jelasnya.
Selain memperkuat distribusi digital, media juga perlu membangun merek atau brand yang kuat. Merek tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, seperti podcast, acara, festival, pelatihan, hingga kegiatan berbasis komunitas.
Suwarjono menegaskan media lokal tidak harus bersaing dengan media nasional menggunakan pendekatan yang sama. Media lokal justru memiliki keunggulan dalam mengangkat isu, tokoh, dan perspektif daerah yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Media lokal juga dapat mengambil isu nasional untuk dibahas dari sudut pandang daerah, sekaligus mengembangkan konten berdasarkan ceruk pasar atau niche yang sesuai dengan karakter dan kekuatan masing-masing.
Suwarjono menekankan transformasi bisnis media membutuhkan proses dan tidak bisa dilakukan secara instan. Karena itu, pengelola media perlu mulai menguji berbagai peluang usaha dan mengevaluasi model bisnis yang paling sesuai dengan kebutuhan pasar.
Baca Juga:KPK Peringatkan Menteri ATR Nusron Wahid Tak Ulur Waktu di Kasus Korupsi Summarecon
Langkah tersebut dinilai penting agar perusahaan media memiliki sumber pendapatan yang lebih beragam dan mampu menghadapi perubahan industri pada 2027.
"Ini adalah PR kita untuk menyiapkan dari sekarang," ujarnya.
Dalam FGD tersebut, sejumlah pemilik dan pengelola media lokal turut menyampaikan pandangan serta berbagi pengalaman mengenai kondisi industri media di lapangan.
Melalui forum ini, diskusi diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi berlanjut menjadi langkah konkret dalam merumuskan model pendapatan, strategi bisnis, distribusi konten, serta pengembangan Beyond Media yang dapat diterapkan sesuai dengan karakter masing-masing media lokal.
Kontributor : Rahman