- Korban dugaan keracunan susu program MBG di SMPN 2 Cisarua bertambah menjadi 120 siswa.
- Rumah Sakit Paru Cisarua masih merawat satu pasien dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium makanan.
- Kepala KPPG Bogor menghentikan sementara operasional penyediaan gizi tersebut selama 20 hari ke depan.
SuaraJabar.id - Jumlah siswa yang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi susu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, bertambah menjadi 120 orang hingga Jumat (23/10/2026).
Berdasarkan pembaruan data dari Humas Rumah Sakit Paru (RSPG) Cisarua, Iwan, penambahan jumlah korban terjadi setelah sejumlah siswa kembali mendatangi rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
"Sampai kemarin ada susulan datang, total jadinya 120," kata Iwan kepada wartawan.
Iwan menjelaskan, para siswa yang baru datang hanya menjalani observasi oleh tenaga medis.
Baca Juga:KPK Periksa 6 Saksi Terkait Kasus Korupsi Kementerian ATR/BPN
Sementara itu, hingga Jumat, masih ada satu pasien yang menjalani perawatan medis di rumah sakit.
Pihak rumah sakit juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap makanan dan minuman yang dikonsumsi para siswa untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.
"Iya betul (satu masih dirawat), terkonfirmasi dari rekan-rekan di pelayanan masih menunggu hasil lab," ujarnya.
Sebelumnya, sebanyak 103 siswa SMP Negeri 2 Cisarua dilaporkan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan keracunan setelah mengonsumsi menu MBG, termasuk susu yang dibagikan kepada para siswa.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Kepala KPPG Bogor, Haidir, menyampaikan bahwa operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berkaitan dengan penyediaan MBG tersebut akan dihentikan sementara selama 20 hari.
Baca Juga:Gejala Keracunan Siswa SMPN 2 Cisarua Muncul Kurang dari 30 Menit Usai Konsumsi MBG
Penghentian operasional dilakukan untuk keperluan evaluasi sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).
"Untuk 20 hari ke depan, sambil dievaluasi dan menunggu hasil dari Labkesda," kata Haidir.