“Bagaimana cara merekrut subjek yang 1620, tantunya setelah kami mendapat ijin dari komite etik kami akan melakukan sosialisasi ke masyarakat apakah dalam bentuk penyuluhan langsung atau melalui eflat, apabilang ingin menjadi sukarelawan menjadi subjek bisa menghubungi ada kontak,” ungkap Eddy.
Pihaknya kata Eddy, mengugkapkan telah mengkaji terlebih dahulu kenapa vaksin ini aman, dikarenakan telah melalui tahapan uji klinis.
Tim uji klinis telah dibentuk yang terdiri dari dokter umum 30 sampai 40 orang, kemudian dokter penyakit dalam dan dokter penyakit anak kemudian keahlian yang lainnya sesuai kebutuhan dari penelitian ini.
“Penelitian ini diharapkan bisa selesai awalnya sebanyak 540 subjek itu selama 3 bulan, jadi yang 3 bulan itu subjeknya sebanyak 540, selain diperiksa keamaannya juga diperiksa imunitasnya artinya kekebalannya. Sedangkan selanjutnya, setelah tiga bulan sampai enam bulan, itu hanya akan dipantau keamanannya, atau istilah lainnya,” ungkapnya.
Ada dua Jenis yang Akan Disuntikkan dalam Uji Coba, Plasebo dan Vaksin
Eddy mengungkapkan akan ada dua kelompok yang disuntikkan, ada kelompok yang mendapatkan Plasebo, dan mendapat Imunisasi Vaksin. Pada akhir penelitian, mereka yang mendapatkan Plasebo akan mendapatkan vaksin Covid-19 tentunya setelah diregistrasi di badan POM. Jadi tidak ada yang dirugikan dalam hal ini, bagaimana perjalanan sebagai subjek kalau menderita sakit.
Plasebo merupakan larutan yang tidak mempunyai efek apa-apa seperti cairan semacam air yang tidak memiliki efek. Sedangkan satu lagi punya zat aktif yaitu vaksin. Itu jadi membedakan yang dapat vaksin betul akan mendapatkan kebebalan yang Plasebo kan pasti tidak memberikan kebebalan reaksi apa apa.
“Waktu awal kalau subjek itu sehat dilakukan rundom, nah dirandom kita tidak tahu, misal A mendapatkan imunisasi vaksin atau B mendapatkan Plasebo, kita tidak tahu. Nanti pada akhir penelitian kata kuncinya dibuka bagaimana hasil yang Plasebo bagaiaman hasil yang Vaksin,” katanya.
Dari jumlah 1.620 subjek yang akan dilakukan uji coba keduanya, baik Plasebo dan Vaksin pada akhirnya akan dapat vaksin. Tapi dalam proses akan dirahasiakan. Tahap awal akan dilakukan pada 540 subjek di tiga bulan pertama itu akan dapat Plasebo dan Vaksin juga.
Baca Juga: Bio Farma Akan Uji Klinis Vaksin Sinovac, Bagaimana Vaksin Buatan Eijkman?
Subjek yang akan menjadi relawan semua sudah harus dalam keadaan sehat, akan dilakukan pemeriksaan dokter yang lengkap, kemudian juga ada pemeriksaan sebelumnya tidak menderita sakit Covid-19, kemudian dalam perjalanannya apabila sakit apapun juga akan dicover oleh asuransi sebagai standarnya, dan terbuka untuk RS di sekitar Kota Bandung.
“Akan tetapi semua yang sakit itu akan kami pantau apakah yang sakit itu terindikasi terinfeksi Covid atau tidak, sehingga pada akhirnya kita akan mempunyai data tentang pertama keamanannya, kedua bahwa kekebalannya di atas nilai proteksi ketiga bahwa faksin ini memberikan perlindungan yang nyata terhadap penyakit covid-19,” kata Eddy.
Diharapkan semua penelitian ini bisa berjalan selama 6 bulan bisa selesai. Akan tetapi setelah 3 bulan penelitian data yang ada di Indonesia akan digabung dengan berbagai negara sehingga diharapkan Januari 2021 sudah bisa digunakan oleh masyarakat.
“Ini tanggung jawab kami dalam hal melakukan tim penelitian, tentu semua mengikuti kaidah yang berlaku dalam penelitian, setelah mendapat ijin dari komite etik, kami melakukan prosedur sesuai yang ditetapkan oleh WHO dan di Indonesia oleh badan POM, penelitina ini juga akan selalu dipantau oleh badan POM, monitor juga oleh tim yang sudah kompeten fan juga mempunyai para pakar yang terkumpul secara independen, apabila terjadi sesuatu setelah imunisasi tim independen itu yang akan memberikan penilaian apakah ada hubungan dengan imunisas,” ungkap Eddy.
Tahap awal pengujian akan dipantau keamanan dan kekebalannya. Setelah 3 bulan kemudian, dipantau selama 6 bulan kondisi imunutas dan kesehatan terhadap subjek.
“Jadi kita punya data yang lengkap sesudah 6 bulan itu, juga kekebalan setelah 6 bulan dipantau lagi apakah setelah 6 bulan itu tingkat kekebalanya masih cukup tinggi sehingga masih bisa berlangsung atau mempunyai kekebalan lebih panjang atau sudah turun, nah hasil penelitian inilah kita akan ketahui,” ungkapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Wali Kota Bandung Ngamuk Gegara Penebangan Pohon: Jangan Ketawa Lu, Gue Segel Ini Tempat!
-
Geger! Penemuan Mayat Terendam di Cianjur, Berawal dari Sepasang Sepatu Bot
-
BPBD Kota Banjar Salurkan 5.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan
-
Polres Garut Sita Ribuan Butir Obat Keras Ilegal, Seorang Pria Asal Aceh Ditangkap
-
Tetangga Manfaatkan Kedekatan, Siswi SMP di Pangandaran Jadi Korban Kekerasan Seksual