Scroll untuk membaca artikel
Ari Syahril Ramadhan
Jum'at, 30 Oktober 2020 | 13:41 WIB
Ilustrasi. Pramugari Garuda Indonesia pakai kebaya Anne Avantie. (Instagram/@anneavantieheart)

SuaraJabar.id - Profesi pramugari menjadi cita-cita banyak anak perempuan. Berseragam rapih, pramugari bisa traveling keliling negeri, bahkan mengunjungi hampir semua tempat yang ada di bumi.

Apalagi, bukan rahasia umum jika pendapatan pramugari lumayan besar. Meski tidak mudah untuk bisa menjalani profesi ini karena maskapai penerbangan memberlakukan seleksi yang ketat bagi awak kabin pesawat mereka.

Bagi yang telah sukses menyandang predikat pramugari tentu memiliki kebahagian tersendiri. Tapi apa jadinya jika setelah bersusah payah mendapatkan pekerjaan tersebut, maskapai penerbangan tempat bekerja melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK)?

Inilah yang mungkin dirasakan beberapa pramugari Garuda Indonesia yang terkena PHK bersama lebih dari 700 karyawan lainnya. Kebijakan perusahaan membuat karyawan diliputi rasa sedih mendalam.

Baca Juga: Garuda Indonesia PHK 700 Karyawan Kontrak Akibat Hantaman Corona

Dilansir Suarasulsel.id, seorang pramugari pun mengunggah momen-momen berharganya bersama Garuda ke TikTok.

Pramugari dengan akun Tiktok @teensp itu membagikan video kenangannya selama bertugas di maskapai penerbangan milik BUMN.

Unggahan pramugari Garuda yang terkena PHK. (TikTok/@teensp)

Ia menceritakan bahwa menjadi pramugari adalah cita-citanya sejak kecil, sehingga kebanggaanya tak terbendung ketika ia akhirnya diterima sebagai pramugari Garuda Indonesia dengan status karyawan kontrak Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).

“26 Oktober 2020, hari terpatah hati buat kami PKWT. Total 793 karyawan kontrak diputus kontrak lebih cepat. Hati kami terpukul, hancur, sedih, tangisku tak kunjung berhenti mengingat perjuangan yang telah kami lalui,” tulis dia.

Namun dia tak patah semangat. Ia masih merasa bersyukur sempat bergabung menjadi bagian perusahaan maskapai penerbangan plat merah itu.

Baca Juga: Para Pekerja yang Terkena PHK akan Dibantu Pemerintah dalam Program JPS

“Garudaku, terima kasih sudah mengizinkanku menjadi bagian dari kalian. Aku sangat amat bangga menjadi bagian dari maskapai plat merah ini. Canda tawa telah kita ukir bersama. Mengenal banyak orang dengan karakter yang berbeda-beda,” ungkapnya sembari membagikan beragam foto kegiatannya selama bekerja.

Ia juga tak melupakan pengalamannya menjadi peserta didik perusahaan sehingga membentuk mental dan pribadi yang lebih baik.

“Terima kasih sudah membawa aku menjadi sosok yang kuat akan fisik, mental, dan pikiran. Menjadikan aku pribadi yang jauh lebih dewasa pada umurku saat ini,” imbuh dia.

“Berat rasanya harus terlepas dari cita-cita yang aku impikan sejak kecil. Harus melepas pekerjaan yang sudah membuatku nyaman dari segala hal. Kini aku harus pamit dengan seberat hatiku. Keep shining, keep smiling, semoga kami bisa mengabdi kembali bersama Garuda Indonesia,” sambung dia.

Penjelasan Garuda Indonesia

Maskapai Garuda Indonesia buka suara terkait adanya karyawan yang diputus kontrak. Manajemen maskapai membenarkan adanya pemutusan kontrak lebih awal pada karyawan tersebut.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra menjelaskan, kebijakan tersebut mulai berlaku tanggal 1 November 2020 kepada sedikitnya 700 karyawan berstatus tenaga kerja kontrak.

“Garuda Indonesia memastikan akan memenuhi seluruh hak karyawan yang terdampak sesuai dengan peraturan yang berlaku, termasuk pembayaran di awal atas kewajiban perusahaan terhadap sisa masa kontrak karyawan,” ujar Irfan.

Menurut Irfan, kebijakan tersebut merupakan keputusan sulit yang terpaksa diambil. Setelah melakukan berbagai upaya penyelamatan untuk memastikan keberlangsungan perusahaan di tengah tantangan dampak pandemi Covid-19.

“Ketika maskapai lain mulai mengimplementasikan kebijakan pengurangan karyawan, kami terus berupaya mengoptimalkan langkah strategis guna memastikan perbaikan kinerja perusahaan. Demi kepentingan karyawan dan masa depan bisnis Garuda Indonesia,” imbuhnya.

“Namun demikian pada titik ini, keputusan berat tersebut terpaksa harus kami tempuh di tengah situasi yang masih penuh dengan ketidakpastian ini,” tambah Irfan.

Load More