Scroll untuk membaca artikel
Ari Syahril Ramadhan
Rabu, 14 Juli 2021 | 15:28 WIB
Kondisi saluran irigasi yang menjadi andalan warga untuk mengairi ratusan hektar sawah di di Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. [Suara.com/Ferrye Bangkit Rizki]

SuaraJabar.id - Saluran irigasi Leuwi Gede di pelosok Kabupaten Bandung Barat (KBB) ini menjadi sumber kehidupan bagi warga di Desa Cibedug, Kecamatan Rongga selama puluhan tahun lalu.

Namun, sudah sekitar 14 tahun saluran irigasi yang mengairi sawah dan menjadi sumber air bagi pemukiman warga itu rusak parah. Belum tersentuh perbaikan optimal, hanya alakadarnya oleh warga dan desa setempat.

Padahal selain menjadi sumber pengairan utama untuk sawah dan serapan air bagi warga, irigasi sepanjang 5.800 meter itu merupakan peninggalan zaman Belanda yang dibangun sekitar tahun 1908.

"Iya saluran air ink sangat di utuhka warga untuk sawah dan ke rumah. Tapi sudah rusak," ujar Ajat Sumirsa (54), salah seorang warga Kampung Dukuh 02/10, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, KBB kepada Suara.com, belum lama ini.

Baca Juga: Polisi Temukan Bercak Darah di Kamar Dede

Namun kini saluran Leuwi Gede sudah tidak optimal mengairi sawah dan menyalurkan air ke rumah-rumah warga. Kerusakannya semakin parah sebab belum mendapat perbaikan permanen.

Selain sendimentasi yang tinggi pada salurannya, kerusakan juga terjadi pada talang air di Kampung Babakan Talang sepanjang 210 meter dan talang air Cimapag sepanjang 85 meter.

"Dampaknya susah air. Paling solusinya ada yang ambil jalan pintas ke Kali Cidadap pakai pompa," ujar Ajat.

Kepala Desa Cibedug, Kecamatan Tongga Engkus Kustendi mengatakan, pihaknya sudah mengajukan bantuan ke berbagai pihak. Seperti Pemkab Bandung Barat, PLN hingga orang Belanda.

Namun yang baru merespon hanyalah PLN dengan membuat bendungan yang menopang saluran irigasi.

Baca Juga: Penutupan Jalan di Cimahi dan KBB Diperluas, Ini Daftar Lengkapnya

"Keinginan warga yang namanya saluran air normal, untuk pertanian sawah. Mudah-mudahan ada pihak terketuk ada yang bisa nyangkut," ujar Engkus.

Bukan tanpa upaya, saluran irigasi Leuwi Gede selalu diperbaiki sesuai kondisi dengan peralatan seadanya oleh warga dan desa. Namun lantaran tak maksimal akhirnya irigasinya rusak lagi dan lagi.

"Apalagi kalau musim hujan, otomatis kan aliran air semakin deras. Bebas irigasinya pun semakin berat," ujarnya.

Dikatakan Engkus, irigasi Leuwi Gede sangat diandalkan warganya. Sekitar 80-90 persen mengandalkan pengairan dari irigasi zaman Belanda itu. Baik untuk pertanian dan resapan sumur.

Menurut pegiat sejarah, David Riksa Buana, irigasi Leuwi Gede dibangun tahun 1908 oleh NV. Cultuur My, yang merupakan perkebunan milik swasta Belanda yang pada tahun 1911 menggabungkan produksinya dengan kebun Palasari dan Tjiisalobak.

Pada Tahun 1948 NV Cultuur My beralih kepemilikannya menjadi milik GLB (Gubernemen Landbouw Bedrijt) dan tahun 1958 nasionalisasi menjadi milik Pemerintah Republik Indonesia dengan nama perusahaan Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) lama.

"Lalu menjadi PPN baru dan tahun 1971 berubah lagi menjadi Perusahaan Perseroan, PT Perkebunan XII yang berkedudukan di Bandung," terang David.

Kemudian, tahun 1982 Perkebunan Montaya digabungkan dengan Perkebunan Rongga yang sama-sama dimiliki PTP XII yang berada di wilayah Kecamatan Gunung Halu.

Pada 11 Maret 1996 PTP XII dilebur bersama PTP XI dan PTP XIII menjadi PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII)

Setelah Pabrik CTC Ciharendong berhenti pada akhir tahun 90 han, saluran irigasi Leuwi Gede berfungsi untuk mengairi pesawahan 374 hektare dan memenuhi kebutuhan air permukaan untuk berbagai kaperluan masyarakat Desa Cibedug.

"Dengan jumlah KK (kepala keluarga) sebanyak 2.237 dan jumlah jiwa sebanyak 6.784 orang," ucapnya.

Ia sudah melihat langsung kondisi irigasi tersebut. Kondisinya memang diakui sangat parah. Menurutnya ada pembiaran rusaknya saluran irigasi ini oleh Pemkab Bandung Barat, Provinsi maupun Pusat.

Pria yang juga sebagai Ketua LSM Trapawana Jawa Barat akan melakukan penggalangan dana yang akan dipergunakan untuk menangani permasalahan ini melalui kegiatan rehabilitasi secara swadaya.

"Dengan melibatkan seluruh komponen yang ada di masyarakat dalam rangka melestarikan nilai-nilai luhur partisipasi masyarakat berupa gotong royong," pungkasnya.

Kontributor : Ferrye Bangkit Rizki

Load More