SuaraJabar.id - Jawa Barat disebut kehilangan 100.000 petani produktif. Berkurangnya petani dalam jumlah yang signifikan itu di antaranya disebabkan oleh berkurangnya lahan karena alih fungsi lahan sehingga para petani memilih untuk beralih profesi.
Hal ini diungkapkan Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat (Jabar) Ahmad Hidayat, Senin (2/8/2021).
"Kurang lebih sekitar 100.000 petani di Jawa Barat ini hilang, ada yang meninggal, ada yang lahannya alih fungsi atau ada juga yang beralih profesi," katanya di Bandung.
Menurut dia, jika hal tersebut tidak diantisipasi oleh Pemprov Jabar maka ke depannya Jawa Barat akan menghadapi kelangkaan petani.
Dia menuturkan hadirnya Program Petani Milenial yang digagas oleh Pemprov Jabar bisa menjadi salah satu solusi regenerasi petani di provinsi itu.
"Jadi tujuannya dari petani milenial ini selain regenerisasi juga untuk ketahanan pangan," kata dia.
Menurut dia, beberapa hal teknis yang perlu diperbaiki sebagai upaya untuk mewujudkan Program Petani Milenial yang lebih baik lagi ke depan.
"Kami dari Komisi II bersama-sama pemerintah provinsi perlu bekerja ekstra, karena memang menciptakan petani tinggal di desa tapi rezeki kota, itu bukan perkara mudah, ada kendala-kendala lahan dan sebagainya," kata Ahmad.
Sementara itu terkait dengan peresmian Program Petani Milenial Tanaman Hias oleh Pemprov Jabar beberapa waktu lalu, Ahmad menilai program tersebut dilakukan untuk mengejar keterbatasan lahan yang selama ini menjadi kendala.
Baca Juga: Tes PCR di India Cuma Rp 130 Ribu, Pengusaha Jawa Barat Angkat Bicara
"Lahan 2.000 meter bisa menghasilkan penghasilan Rp4 juta sebulan bagi petani. Saya kira programnya sudah cukup baik untuk awal. Ke depan kita perlu perbaiki bersama-sama," ujarnya.
Lebih lanjut anggota DPRD Jabar dari Fraksi Partai Golkar tersebut menegaskan regenerasi petani menjadi target utama untuk kembali meningkatkan ketahanan pangan di Jawa Barat.
"Sekarang kita targetnya meregenerasi petani dulu, membentuk mental petani. Karena berbicara bisnis di pertanian sulit, tidak mudah, dapat uangnya susah banyak tantangannya, setelah itu kita kejar ke target untuk ketahanan pangannya," kata dia.
"Maka komoditas yang harus di dorong bukan lagi tanaman hias tapi komoditas yang bisa dimakan," kata dia. [Antara]
Berita Terkait
-
Saan Mustopa: Reforma Agraria Bukan Cuma Soal Konflik, Petani Jadi Prioritas
-
KPA: Jangan Lagi Kriminalisasi Petani dan Masyarakat Adat yang Perjuangkan Tanah
-
AGRA Tak Percaya UU Reforma Agraria Bisa Atasi Monopoli Tanah
-
KPA Soroti Aturan Baru Reforma Agraria, Singgung Pembatasan Konsesi Besar
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
Terpopuler
Pilihan
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
-
Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban
Terkini
-
28 PPKS di Karawang Jalani Asesmen untuk Penanganan Lanjutan
-
Kasus Asusila Anak di Tasikmalaya, Polisi Libatkan KPAID untuk Pulihkan Trauma Korban
-
Dugaan Fasilitas Khusus Ferdy Sambo di Lapas Cibinong, Ini Jawaban Ditjenpas
-
5 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli Game Digital di PC dengan Bantuan GoPay Games
-
YGMD Laporkan Kemendikdasmen ke APH Terkait Dugaan KKN Proyek Digitalisasi Sekolah