SuaraJabar.id - Matahari bersinar terik membakar kulit Dedi yang semakin keriput dimakan waktu. Menenteng ember kecil berisikan jaring dan dayung, ia berjalan ke arah Situ Ciburuy yang kian menyusut.
Pria 42 tahun asal Kampung Sadang Wetan RT 01/16, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) itu menuju rakit bambu sederhana miliknya. Ia hendak berlayar menyusuri situ yang melegenda itu.
Dedi mulai mendayung perlahan dan jaringan yang ditenteng nya mulai ia gunakan untuk menangkap "harta karun" berupa ikan. Teriknya matahari pada Rabu (18/8/2021) sekitar pukul 13.00 WIB bukan jadi penghalang.
Sebab di musim kemarau seperti inilah waktunya Dedi dan puluhan warga lainnya untuk menjadi nelayan musiman dengan mencari ikan.
Debit air Situ Ciburuy surut sejak beberapa bulan lalu sehingga menjadi kesempatan untuk mendapat hasil tangkapan yang cukup banyak.
"Saya biasanya memang mulai nyari ikan pagi sampai siang. Atau enggak siang ke sore," tutur Dedi.
Dedi terus mendayung rakitnya menjauhi bibir Situ Ciburuy. Dari kejauhan terlihat teman-temannya sudah mencari "harta karun" terlebih dulu berupa ikan nila menggunakan jaring atau jalan ikan.
Sesekali mereka menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air yang hangat tersengat sinar matahari. Kedalamannya disebut menyisakan sekitar 1 meter saja dikarenakan debit airnya terus menyusun dimakan kemarau.
Penyusutan debit air itulah yang dimanfaatkan Dedi dan warga setempat untuk menangkap ikan sebanyak-banyaknya. Sebab ikan menjadi lebih mudah ditangkap ketika airnya menyusut.
Baca Juga: Sepi Wisatawan, Kawasan Wisata Lembang Jadi Mirip Kota Mati
Jika sedang beruntung, dalam satu tarikan jaring bisa beberapa ekor ikan yang masuk perangkap. Namun kalau sedang buntung, yang terjaring hanyalah lumpur dan benda-benda lainnya yang mengendap di dasar situ.
"Setiap musim kemarau memang selalu dimanfaatkan untuk nyari ikan. Kalau lagi musim hujan paling mancing, gak bisa langsung pakai jaring," ujar Dedi.
Dari tahun 1993 Dedi sudah menjadi nelayan musiman di Situ Ciburuy yang dibuat sekitar tahun 1800-an oleh Bempi atas pesuruh Ratu Wilhelmina dari Belanda. Dedi menjadikan rutinitas ini sebagai mata pencaharian dikala ordernya sedang sepi.
Dedi sehari-harinya merupakan buruh bangunan. Namun sejak pandemi COVID-19 ini panggilan untuk memanfaatkan jasanya sangat jarang. Ia pun semakin menguras keringatnya untuk mencari ikan.
Dalam sehari, ia bisa mendapat hasil tangkapan sekitar 10 kilogram ikan nila segar. Namun jika sedang sulit, Dedi hanya mendapat sekitar 5 kilogram ikan hasil tangkapannya dengan menyusuri Situ Ciburuy seluas 25 hektare.
Ikan-ikan itu dijualnya seharga Rp 15 ribu per kilogram. Artinya jika sehari ada 10 kilogram yang ditangkap, maka ia bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah hingga Rp 150 ribu untuk dibawa pulang ke rumah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
5 HP Infinix Memori 256 GB Paling Murah untuk Gaming Lancar dan Simpan Foto Lega
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan
-
Unilever Jual Sariwangi ke Grup Djarum Senilai Rp1,5 Triliun
Terkini
-
Rudy Susmanto Minta Anggaran 2026 Kabupaten Bogor Fokus pada Kesejahteraan Masyarakat
-
Warisan Utang Rp621 Miliar Hantui Jabar, Dedi Mulyadi Sebut Ruang Fiskal 2026 Terpukul Telak
-
Densus 88 Temukan 70 Anak Terpapar Konten Kekerasan, Jabar dan Jakarta Jadi Wilayah Terbanyak
-
Pejuang Bekasi dan Depok Merapat! Cek Jadwal KRL ke Jakarta Kamis 8 Januari 2026
-
Kecil-Kecil Cabe Rawit! Ini 3 Wisata Alam Wajib Dikunjungi di Kota Sukabumi untuk Healing Singkat