Andi Ahmad S
Jum'at, 29 Agustus 2025 | 20:02 WIB
Ilustrasi Demo di Bandung Jabar. [Suara.com/Ari Welianto]
Baca 10 detik
  • TNI Tenangkan Massa Demo di Bandung
  • Momen Segerombol TNI Muncul
[batas-kesimpulan]

SuaraJabar.id - Situasi unjuk rasa yang telah memanas di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, pada Jumat (29/8/2025) sore, diwarnai sebuah momen yang sama sekali tak terduga.

Di tengah kepulan gas air mata dan suara ledakan petasan, serombongan massa bersama personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) tiba-tiba muncul, menambah babak baru dalam eskalasi aksi.

Kedatangan mereka yang dipimpin oleh seorang perwira tinggi berpangkat bintang dua, lengkap dengan tongkat komando, sontak mengubah dinamika di lapangan dan membelah respons massa aksi yang sudah lebih dulu berada di lokasi.

Dilansir dari AyoBandung -jaringan Suara.com, sekitar pukul 15.43 WIB, dari arah persimpangan Jalan Sulanjana-Diponegoro, rombongan ini bergerak maju. Terlihat setidaknya lima personel TNI, dengan seorang jenderal di barisan terdepan.

Di belakang mereka, puluhan massa sipil berjalan kaki sambil bergandengan tangan dan serempak meneriakkan kata revolusi.

Namun, kehadiran aparat militer ini tidak disambut dengan tangan terbuka oleh semua demonstran.

Sebagian massa yang telah lebih dulu bentrok dengan kepolisian justru menunjukkan penolakan dan kecurigaan.

"Kalian sama saja, militerisme," teriak seorang pengunjuk rasa dari tengah kerumunan.

Teriakan sinis itu bergema, menunjukkan adanya sentimen anti-intervensi militer di kalangan massa.

Baca Juga: Aksi Solidaritas Ojol di DPRD Jabar Ricuh: Molotov Dibalas Gas Air Mata, Massa Merangsek Masuk

Meski mendapat penolakan, sang jenderal dan rombongannya tetap berjalan tegap menembus kerumunan, menuju titik pusat kericuhan di depan gerbang utama DPRD Jawa Barat.

Aksi solidaritas atau unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat kian memanas menjelang petang. (AyoBandung.com).

Sesampainya di depan gerbang, jenderal yang memegang tongkat komando itu langsung mencoba mengambil inisiatif untuk menenangkan massa.

Namun, suaranya tenggelam oleh riuh rendah teriakan dan ledakan petasan yang masih sesekali terdengar.

Tak kehilangan akal, perwira tinggi itu bahkan sampai naik ke pundak seseorang agar dapat terlihat dan berkomunikasi lebih baik dengan kerumunan.

Dengan isyarat tangan, ia memohon massa untuk tenang. Terlihat dari gerak bibirnya, ia sempat mengucapkan kata maaf.

Akan tetapi, upaya mediasinya disambut respons yang campur aduk. Sebagian massa tetap berteriak 'revolusi!', sementara yang lain terus menyuarakan penolakan dengan teriakan 'militerisme!'.

Kericuhan dan ketegangan yang terjadi sepanjang sore ini berakar dari aksi solidaritas para pengemudi ojek online (ojol) atas insiden kekerasan yang menimpa rekan mereka di Jakarta.

Gusti, salah satu perwakilan ojol, sebelumnya telah menegaskan bahwa aksi ini adalah bentuk kemarahan atas tindakan aparat.

"Saya sebagai masyarakat Indonesia mengutuk keras kepada pihak polisi yang seakan-akan tidak punya hati nurani melindas teman saya, saudara saya. Tolong diusut tuntas semuanya,” katanya.

Ia menilai aparat telah mengkhianati rakyat kecil dan mengutuk keras insiden di Jakarta yang menyebabkan rekan sesama ojolnya meninggal dunia.

"Rakyat sedang berjuang, tolong lihat ke bawah. Kami pengguna ojol sangat mengutuk keras kejadian ini," tambahnya.

Load More