- Proyek pembangunan perumahan elite oleh PT Gunung Karang Megah di Bukit Gunung Karang Kota Sukabumi terhenti sementara karena belum memiliki izin resmi.
- Aktivitas pengerukan tanah sejak akhir 2025 ini telah menyebabkan penurunan daya serap air dan penyumbatan saluran irigasi persawahan warga.
- Warga menuntut pengembang menyediakan fasilitas umum berupa lahan pemakaman sebagai syarat kompromi atas pengubahan bentang alam tersebut.
Daya serap air bukit menurun drastis, memicu ketakutan akan ancaman banjir bandang saat musim penghujan. Parahnya lagi, warga melaporkan urat nadi pertanian mereka mulai tercekik.
“Kemarin sempat ada laporan, aliran sungai kecil di sekitar area persawahan tertutup oleh limpasan tanah hasil kerukan. Akibatnya, aliran air tidak lancar dan memicu genangan yang merugikan petani,” keluh Deddy.
Meski pusat pengerukan lahan tak menempel persis dengan rumah penduduk, berjarak kurang dari 500 meter dari RW 3 dan terhalang Jalur Lingkar Selatan untuk RW 9, dampak lingkungan tak mengenal batas wilayah.
Tuntutan Pilu Warga: Sisakan Kami Lahan Makam
Di tengah ketidakberdayaan menghadapi kekuatan modal pengembang, warga mencoba berkompromi demi masa depan kampung mereka.
Dalam forum mediasi yang difasilitasi kelurahan, warga mengajukan satu syarat khusus yang terdengar memilukan jika bukit kesayangan mereka benar-benar harus diratakan menjadi beton mewah. Bukan meminta uang ganti rugi miliaran, warga hanya meminta sepetak tanah.
“Keinginan warga pada waktu mediasi itu sederhana. Mereka menuntut pihak pengembang menyediakan Fasilitas Umum (Fasum) berupa area pemakaman. Masyarakat ingin sebagian kecil tanah kepemilikan itu diberikan untuk lahan kuburan mereka kelak,” tutur Deddy dengan nada lirih.
Kini, nasib Bukit Gunung Karang menggantung di ujung tanduk. Masa depan panorama 360 derajat kebanggaan Kota Sukabumi itu sepenuhnya bergantung pada nyali pemerintah daerah dalam menegakkan aturan perizinan, dan komitmen lingkungan dari sang pengembang elite. Akankah bukit ini kembali hijau, atau lenyap di bawah fondasi kemewahan?
Artikel ini telah tayang di website sukabumiupdate.com media jaringan Suara.com dengan judul "Izin Belum Rampung, Proyek Perumahan Elit di Bukit Gunung Karang Kota Sukabumi Disetop"
Baca Juga: Menepis Hoaks "Sopir Kabur": Kakek Sopir Angkot Lindas Pasutri di Gandasoli Kini Diperiksa Polisi
Berita Terkait
-
Menepis Hoaks "Sopir Kabur": Kakek Sopir Angkot Lindas Pasutri di Gandasoli Kini Diperiksa Polisi
-
Membangun Ekosistem Kopi di Lereng Salak, Tempat Petani Jadi Jantung Rantai Nilai
-
Terhempas dari Atap Angkot: Kisah Pilu Pria di Sukabumi yang Terjatuh Saat Jaga Karangan Bunga
-
Adu Strategi di Jalur Bocimi: Menakar Jurus Polisi Sukabumi Jinakkan Kemacetan di Seksi 3
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Cara Mencari Sinyal TVRI di TV Digital dan TV Analog agar Bisa Nonton Siaran Piala Dunia 2026
- 4 SMA di Banten Terpilih Jadi Sekolah Unggul Garuda 2026, Ini Daftarnya
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
Pilihan
-
Prediksi Argentina vs Aljazair: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
Terkini
-
Kritik Masjid Megah, Dedi Mulyadi: Jangan Sampai Jadi Tempat Selfie Bukan Tempat Tafakur
-
Bawang Putih Jarang Tumbuh di Dataran Rendah, PTPN I Pilih Gunung Mas Puncak untuk Trial
-
Kota Bandung Ramai Demo Mahasiswa, Muhammad Farhan: Saya Yakin Suara Mereka Didengar
-
Peringati Tahun Baru Islam, Jusuf Kalla: Masjid Harus Memakmurkan Jamaah
-
BRI Apresiasi BRILink Agen dengan Reward Emas untuk Dorong Akuisisi Pengguna BRImo