- Pengamat Khairul Zaki menilai penguntitan Febrie Ardiansyah pada 4 Agustus 2026 menunjukkan kelemahan kontra-intelijen Kejagung.
- Insiden tersebut mencerminkan kegagalan preventif dalam melindungi personel kunci yang menangani kasus mega korupsi skala masif.
- Kejaksaan Agung harus melakukan evaluasi total untuk memperketat pengamanan dan memperkuat koordinasi antar-lembaga penegak hukum.
SuaraJabar.id - Pengamat intelijen Khairul Zaki menilai insiden penguntitan dan penggeledahan aset milik eks Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Ardiansyah sebagai sebuah sinyal darurat.
Peristiwa tersebut, menurutnya, tidak bisa dipandang sebelah mata dan merefleksikan adanya celah serius pada sistem kontra-intelijen serta deteksi dini di internal Kejaksaan Agung (Kejagung).
Dalam pandangannya, pengamanan terhadap pejabat penegak hukum yang menangani perkara kakap seharusnya memiliki standar pengawalan yang ketat, baik secara fisik maupun informasi.
"Ketika pergerakan pihak luar di ring terdekat seorang pejabat strategis penegak hukum luput dari pantauan dini, itu mengindikasikan adanya degradasi pada fungsi kontra-intelijen dan situational awareness," ujar Khairul Zaki, Selasa (4/8/2026).
Zaki menjelaskan, institusi sebesar Kejaksaan Agung yang tengah gencar membongkar kasus-kasus mega korupsi—seperti tata niaga timah bernilai ratusan triliun rupiah—seharusnya dilengkapi dengan sistem peringatan dini (early warning system) yang kokoh.
Kegagalan mendeteksi aktivitas pemantauan dari pihak luar di area operasional Jampidsus menunjukkan bahwa perangkat intelijen penegakan hukum (Jamintel) kurang siaga dalam menghadapi ancaman asimetris.
"Ini bukan sekadar kecolongan teknis di lapangan. Ada aspek kegagalan preventif dalam memetakan potensi ancaman terhadap keselamatan personel kunci (key person protection) yang sedang memegang mandat negara," tambahnya.
Selain persoalan pengamanan fisik, Zaki menyoroti dimensi dinamika antar-lembaga penegak hukum.
Dalam konstelasi penegakan hukum yang sarat kepentingan besar, gesekan taktis sering kali terjadi akibat minimnya keterbukaan informasi (information sharing) atau ketiadaan mekanisme koordinasi yang efektif (de-confliction).
Ia menyebutkan bahwa ketika institusi penegak hukum bergerak dalam area yurisdiksi yang sensitif, potensi tumpang tindih kepentingan atau langkah-langkah terselubung antar-aparat kerap menjadi celah yang membahayakan keselamatan aparat penegak hukum itu sendiri.
Baca Juga: Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
"Persaingan atau gesekan antar-instansi dalam menangani kasus berprofil tinggi adalah realitas pahit di lapangan. Jika Jamintel gagal membaca manuver atau pergerakan instansi lain di sekitarnya, maka koordinasi strategis antar-lembaga penegak hukum kita sedang berada dalam lampu kuning," tegas Zaki.
Zaki pun mengingatkan bahwa penanganan perkara korupsi skala masif selalu mengundang risiko serangan balik (backlash) atau metode penekanan hukum (lawfare) dari pihak-pihak yang merasa terancam.
Oleh karena itu, insiden yang menimpa Jampidsus harus dijadikan momentum evaluasi total bagi Kejagung untuk memperketat protokol pengamanan, mempertajam analisis intelijen strategis, serta memperkuat sinergi nasional demi menjamin independensi dan keselamatan penegak hukum di Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Penebangan 10 Pohon di Jalan Riau Lolos Pengawasan, Dedi Mulyadi Minta Camat Hingga Lurah Disanksi
-
Polisi Sita 18 Motor Curian, Komplotan Curanmor Bersenjata Api Rakitan Dibekuk di Sumedang
-
Persib Bandung vs Persija, Igor Tolic: Bukan Soal Bermain Indah, Tapi Menang!
-
Cikole dan Cibeureum Sarang Pengungkapan Narkoba, 43 Tersangka Diciduk Polres Sukabumi
-
Bejat! Ayah di Sukabumi Diduga Cabuli Anak Kandung Sejak SD, Polisi Tetapkan Tersangka