- Kelompok Tani Cipicung di Sukabumi memulai program usaha terpadu peternakan dan pertanian bersama Star Energy Geothermal pada 2025.
- Program tersebut berhasil memproduksi 3,4 ton pupuk organik padat serta menghasilkan empat ekor anakan kambing baru.
- Anggota kelompok menerapkan sistem bagi hasil pendapatan sebesar 60 persen untuk anggota dan 40 persen untuk kas kelompok.
SuaraJabar.id - Dari 15 ekor kambing, terbitlah sebuah gerakan perubahan. Di Desa Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Kelompok Tani Cipicung berhasil memutar roda ekonomi dan kelestarian lingkungan melalui model usaha terpadu yang menyatukan peternakan dan pertanian.
Program yang diinisiasi pada 2025 bersama Star Energy Geothermal Salak Ltd. (Star Energy Geothermal) ini mengubah wajah peternakan lokal. Kambing-kambing tersebut tak lagi sekadar ternak, melainkan pabrik nutrisi alami.
Hingga saat ini, kelompok telah menghasilkan sekitar 3,4 ton pupuk organik padat. Tiga ekor kambing betina juga telah berkembang biak dan menghasilkan empat ekor anakan.
Apri selaku Ketua Kelompok Tani Cipicung mengatakan, pengembangan peternakan memberikan manfaat yang lebih luas karena dapat diintegrasikan dengan kegiatan pertanian kelompok.
"Bantuan ini sangat membantu kami karena kambing yang dipelihara tidak hanya dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan, tetapi kotorannya juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk lahan pertanian. Dengan begitu, kami bisa memanfaatkan sumber daya yang ada secara lebih optimal dan berkelanjutan,” ujarnya, Senin kepada wartawan, Senin (31/8/2026).
Kelompok Tani Cipicung beranggotakan 40 orang yang aktif di sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Mereka mengelola berbagai komoditas seperti jeruk, cengkeh, pala, dan pisang. Pisang menjadi salah satu sumber pendapatan rutin anggota dengan siklus panen setiap 15 hari.
Integrasi pertanian dan peternakan membuat kelompok dapat memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara lebih efisien.
Rumput untuk pakan kambing ditanam dengan sistem tumpang sari di bawah tanaman buah. Dengan pola ini, anggota dapat merawat tanaman sekaligus menyediakan pakan ternak ketika bekerja di lahan perkebunan.
Sementara itu, kotoran kambing tidak menjadi limbah. Sejak November 2025, kelompok telah mengolahnya menjadi sekitar 3,4 ton pupuk organik yang kemudian didistribusikan kepada anggota untuk digunakan kembali di lahan pertanian.
Baca Juga: Bukan Sekadar Tren: Local Pride Gen Z Mendorong Ekonomi Kreatif Indonesia Menuju Panggung Global
“Sekarang kami tidak hanya mendapatkan manfaat dari kambingnya, tetapi juga dari kotorannya yang bisa diolah menjadi pupuk. Pupuk ini kami gunakan kembali untuk tanaman anggota, sehingga hasil dari peternakan dapat mendukung kegiatan pertanian kami,” ungkap Apri.
Pola tersebut menciptakan siklus sederhana di tingkat kelompok kebun menyediakan pakan bagi ternak, ternak menghasilkan pupuk bagi kebun, sementara perkembangan populasi ternak membuka sumber pendapatan tambahan bagi anggota.
Pengelolaan peternakan dilakukan secara kolektif. Sedikitnya dua anggota kelompok bertugas setiap hari untuk merawat ternak.
Kambing yang berkembang biak juga menjadi bagian dari pengembangan aset kelompok. Empat anakan yang telah lahir direncanakan dijual menjelang Idul Adha sebagai tambahan pendapatan.
Kelompok menerapkan mekanisme bagi hasil untuk menjaga agar manfaat ekonomi dapat dirasakan anggota sekaligus memastikan usaha memiliki modal untuk terus berkembang. Sebanyak 60 persen pendapatan dibagikan kepada anggota sebagai insentif, sedangkan 40 persen dialokasikan kembali ke kas kelompok.
Kolaborasi Star Energy Geothermal dengan Kelompok Tani Cipicung diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan sumber penghidupan yang dapat dikelola dan dikembangkan secara mandiri.
Berita Terkait
-
Bukan Sekadar Tren: Local Pride Gen Z Mendorong Ekonomi Kreatif Indonesia Menuju Panggung Global
-
BRI Terus Jadi Motor Ekonomi Kerakyatan, Laba Tembus Rp31,2 Triliun di Triwulan II 2026
-
Bank SMBC Indonesia Gandeng ADB Perkuat Pembiayaan Perdagangan dan Rantai Pasok
-
Gunung Geulis Sukabumi Terbakar, 4 Hektare Lahan Hangus Api Mendekati Pemukiman
-
Perjalanan Imran di Jalan Sukabumi-Bogor Berakhir Tragis, Alami Kecelakaan vs Mobil Box
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
BRI dan Holding UMi Dorong Jutaan Pelaku Usaha Ultra Mikro Naik Kelas
-
Kemarau Jabar: 325 Hektare Lahan Terbakar dan 215 Ribu KK Terdampak Kekeringan
-
Sindiran Pelatih Persib Usai Takluk di GBK: Persija Rayakan Kemenangan Seperti Juara Liga Champions
-
Tati Purwanti Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei, Tumbuh Bersama Dukungan BRI
-
Jaga Kondusivitas Laga Persib-Persija, Kapolda Jabar Perintahkan Siaga Satu