Ronald Seger Prabowo
Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi produk skincare dan kosmetik (pexels/Skylar Kang)
Baca 10 detik
  • Industri kecantikan kini mengembangkan PDRN berbahan nabati sebagai alternatif etis pengganti DNA salmon untuk produk perawatan kulit.
  • Chief Marketing Officer Glamazing Yudrika Azka menyampaikan inovasi tersebut pada Jumat (30/10/2026) guna menjaga efektivitas sekaligus etika.
  • Dokter Giovanni Abraham dan Cecillia Young menyatakan PDRN topikal berukuran kecil efektif memberikan manfaat perawatan kulit tanpa harus injeksi.

SuaraJabar.id - Tren penggunaan bahan aktif dalam industri kecantikan terus berkembang. Selama ini Polydeoxyribonucleotide atau PDRN identik dengan DNA salmon, kini teknologi pengolahan bahan baku membuka peluang pemanfaatan sumber nabati sebagai alternatif untuk produk perawatan kulit.

PDRN selama ini dikenal sebagai salah satu bahan aktif yang digunakan dalam perawatan kulit, terutama karena potensinya dalam mendukung proses regenerasi dan perbaikan kulit. Perkembangan teknologi formulasi kini memungkinkan bahan berbasis tumbuhan diolah menjadi fragmen DNA berukuran kecil untuk dimanfaatkan dalam produk skincare topikal.

Inovasi ini sekaligus membuka babak baru bagi industri kecantikan yang mulai memperhatikan bukan hanya efektivitas bahan aktif, tetapi juga asal-usul dan aspek etika dalam pemilihan bahan baku.

Chief Marketing Officer Glamazing, Yudrika Azka, mengatakan pemanfaatan PDRN berbasis tumbuhan menjadi salah satu alternatif dalam pengembangan produk perawatan kulit yang mempertimbangkan aspek etika tanpa mengabaikan kualitas formulasi.

"Kami percaya inovasi skincare tidak harus mengorbankan nilai ethical untuk menghasilkan produk yang tetap efektif. Melalui PDRN berbasis tumbuhan, kami ingin menghadirkan alternatif bahan baku yang lebih sejalan dengan prinsip tersebut," ujar Yudrika dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).

Menurut Yudrika, inovasi skincare tidak cukup hanya dilihat dari sumber bahan aktif yang digunakan. Formulasi secara keseluruhan juga perlu mempertimbangkan kebutuhan kulit, kenyamanan penggunaan, serta manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pandangan tersebut sejalan dengan meningkatnya eksplorasi bahan aktif berbasis tumbuhan di industri kecantikan. Di Indonesia, pendekatan ini mulai diadopsi dalam pengembangan sejumlah produk perawatan kulit, salah satunya melalui PDRN+ Series yang mengombinasikan Rose PDRN dan Cica PDRN dengan bahan aktif pendukung.

Di sisi lain, penggunaan PDRN dalam produk skincare topikal juga menjadi perhatian dalam perkembangan riset perawatan kulit. Dokter estetika dan edukator skincare, dr. Giovanni Abraham atau yang dikenal sebagai dr. Gio, menilai anggapan bahwa PDRN hanya dapat memberikan manfaat melalui prosedur injeksi perlu dilihat secara lebih luas.

Menurut dia, sejumlah penelitian telah mengeksplorasi potensi penggunaan PDRN dalam sediaan topikal atau produk yang diaplikasikan langsung ke permukaan kulit.

Baca Juga: Kolaborasi Kampus dan Industri Dinilai Penting untuk Bangun Kota Berkelanjutan

“Merupakan mitos dan tidak sepenuhnya benar jika PDRN dianggap hanya efektif melalui injeksi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa PDRN dalam sediaan topikal atau produk skincare juga memiliki potensi manfaat untuk perawatan kulit,” ujarnya.

Sementara itu, dr. Cecillia Young menyoroti kemajuan teknologi pengolahan bahan aktif yang memungkinkan pengembangan PDRN dari sumber nabati.

Menurutnya, teknologi pengolahan bahan baku kini memungkinkan material yang berasal dari tumbuhan diproses menjadi fragmen DNA berukuran kecil sehingga dapat dikembangkan sebagai bahan dalam formulasi skincare.

“Teknologi sekarang semakin maju. Ada PDRN tumbuhan yang diolah jadi fragmen DNA berukuran kecil dan bisa diformulasikan untuk skincare,” jelas dr. Cecillia.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa inovasi industri skincare tidak hanya berfokus pada penemuan bahan aktif baru, tetapi juga eksplorasi sumber bahan baku dan teknologi pengolahannya. PDRN berbasis tumbuhan pun menjadi salah satu alternatif yang menarik untuk dikembangkan, meski efektivitasnya tetap perlu dinilai berdasarkan bukti ilmiah dan hasil pengujian formulasi produk.

Load More