Dokter Jiwa Ungkap Alasan Orang Cemas Sulit Berpikiran Positif

Dokter jiwa mengungkapkan alasan mengapa orang dengan gangguan kecemasan sulit untuk berpikir positif.

M. Reza Sulaiman | Lilis Varwati
Rabu, 09 September 2020 | 21:32 WIB
Dokter Jiwa Ungkap Alasan Orang Cemas Sulit Berpikiran Positif
Ilustrasi cemas atau khawatir [Shutterstock]

SuaraJabar.id - Dokter jiwa mengungkapkan alasan mengapa orang dengan gangguan kecemasan sulit untuk berpikir positif.

Bahkan, dukungan orang terdekat pun tidak selalu berhasil membantu. Menurut dokter, ini terjadi akibat perasaan cemas berlebih yang membuat otak selalu dalam keadaan waspada.

Dokter spesialis kejiwaan sekaligus pakar psikosomatik, dr. Andri Sp.KJ, menjelaskan bahwa gangguan kecemasan banyak dikaitkan karena faktor aktivitas otak, khususnya pada bagian amigdala, yang berlebihan.

"Posisi di otaknya selalu dalam keadaan siap sedia. Tidak heran pula banyak orang yang mengalami gangguan kecemasan sering mengeluh kayaknya tegang terus, merasa capek, merasa kaku badannya, seolah-olah enggak bisa rileks," papar Andri dikutip dari kanal YouTube Andri Psikosomatik Selasa (8/9/2020).

Baca Juga:Olahraga dapat Melawan Stres dengan Tingkatkan Produksi Protein di Otak!

Hal serupa terjadi dengan suasana hatinya, lanjut dokter Andri. Pasien gangguan kecemasan akan selalu mengantisipasi hal-hal yang berkaitan dengan pikiran.

Segala sesuatu yang terjadi akan direspon secara negatif terlebih dahulu.

"Jadi kalau kita melihat, gak heran banyak orang yang mengalami kecemasan seolah-olah susah sekali berpikir positif. Karena begitu banyak hal-hal yang negatif sebagai proses antisipatif," jelasnya.

Proses pengobatannya, menurut Andri, perlu diperbaiki sistem yang berlebihan dalam otaknya.

Pasien harus mau belajar untuk menenangkan amigdala pada otaknya.

Baca Juga:Hipokondriasis, Merasa Sakit Parah Padahal Hanya Alami Gejala Ringan

Kesalahan yang kerap kali terjadi, kata Andri, pasien hanya minum obat penghilang cemas. Tapi tidak mengontrol pikirannya sendiri.

"Secara singkat obat akan membantu cepat mengatasi gejala aktivasi otonom yang berlebihan. Tapi untuk jangka panjang perlu ada cara suatu keadaan yang bisa membuat tubuh lebih rileks, lebih nyaman, dan membuat lebih stabil," jelasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak