Ustaz Wawan memaparkan, ada banyak Muslim yang mengharamkan mengucapkan selamat Natal, tapi ia tidak termasuk. Sebaliknya kata dia, banyak orang Islam yang menganggap mengucapkan selamat Natal itu tidak apa-apa. Tapi kata dia, yang mengucapkan langsung ke gereja hanya sedikit.
"Di antaranya saya. Seperti dalam alkitab, banyak yang terpanggil tapi hanya sedikit yang terpilih," ujarnya.
Menurutnya, ada orang Islam yang beranggapan bahwa mengucapkan selamat Natal dapat menghilangkan keimanan mereka. Mereka bakal dianggap masuk golongan Kristen jika mengucapkan selamat Natal.
Ia menilai pandangan itu tidaklah tepat. Ucapan selamat Natal merupakan bentuk toleransi. Muslim dan umat Kristiani kata Ustaz Wawan, hidup bertetangga.
Baca Juga:Natal di Masa Pandemi, Gereja di Sleman Gelar Ibadah Langsung dan Daring
Maka kata dia, merupakan hal yang wajar jika ada tetangga yang tengah berbahagia, tetangga lainnya ikut berbahagia dengan mengucapkan selamat.
"Saya setiap 10 November mengucapkan selamat Hari Pahlawan, besoknya saya tidak jadi avengers," kata dia.
Dalam kesempatan itu, Wawan menekankan pentingnya berbagi peran antara umat Muslim dan Kristiani. Misalnya, orang Muslim harus mendukung umat Kristiani agar taat dalam agamanya, begitu pun sebaliknya.
"Saya selaku orang Islam harus mendorong orang Islam baik dan taat dalam agamanya. Saya juga mendorong orang Kristen untuk baik dan taat dalam agamanya. Jadi kalau sama-sama baik tidak mungkin ada konflik," ujarnya.
"Kalau orang Kristen di sekitar saya jahat, saya pasti yang jadi korbannya. Bapak ibu juga harus mendorong saya dan teman-teman Muslim menjadi baik karena kalau saya jadi copet, bapak dan ibu yang jadi korbannya," lanjut dia.
Baca Juga:Dibatasi 1.200 Umat, Ini Jadwal Natal di Gereja Santo Yoseph Palembang
Salah satu caranya kata dia, semua pihak tidak boleh melarang salah satu pihak untuk menjalankan ajarannya.