"Kekosongan pendampingan itu kemudian diisi oleh FPI," sambungnya.

Ia menyebut, FPI memberikan pendampingan untuk Miskot dan Kumis dengan menggunakan konsep 'kiai kampung', sama serupa dengan yang dilakukan para Kiai NU di luar Jakarta.
"FPI punya konsep "Kiai Kampung' yang pintu rumahnya terbuka 24 jam untuk Ummat kelompok miskin kota (miskot) dan perkampungan kumuh miskin (Kumis) Jakarta: sama seperti terbukanya 24 jam pintu rumah para Kiai Nu di pedesaan Jawa Kalimantan," katanya.
Lebih jauh, Tamrin Tomagola menyorot pernyataan Pandji soal penggunaan kata "rakyat" dan elitis".
Baca Juga:Pandji Bandingkan FPI dengan NU dan Muhammadiyah, Kill the DJ Tertawa
"Penggunaan kata-kata 'rakyat' dan 'elitis' sebaiknya ditanyakan kepada Saudara Padji sendiri," imbuhnya.
Di akhir klarifikasinya, Tamrin Tomagola menegaskan bahwa pernyataannya pada 2012 lalu bukan bertujuan untuk memuji atau membela FPI sebagai ormas yang peduli dengan rakyat kecil.
"Tidak sama sekali. Saya sekedar mengamati realita dan mengungkapnya secara bebas nilai atau penilaian," tandasnya.

Sebelumnya, Pandji ramai diperbincangkan usai ia menyebut NU dan Muhammadiyah tidak dekat dengan masyarakat, jika dibandingkan dengan FPI.
Hal tersebut dia ucapkan dalam sebuah video berjudul 'FPI DIBUBARIN PERCUMA? feat AFIF XAVI & FIKRI KUNING' yang diunggah di kanal Youtube miliknya pada 3 Januari 2021 lalu.
Baca Juga:Dianggap Berpikir Mundur, PP Muhammadiyah Suruh Pandji Banyak Baca Buku
"FPI itu hadir gara-gara dua ormas besar Islam (NU dan Muhammadiyah) jauh dari rakyat. Mereka elit-elit politik. Sementara FPI itu dekat. Kalau ada yang sakit, ada warga yang sakit mau berobat, nggak punya duit, ke FPI, kadang-kadang FPI ngasih duit, kadang FPI ngasih surat. Suratnya dibawa ke dokter jadi diterima," ujar Pandji.