alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kisah Getir Bisnis Kopi Luwak di Tengah Pandemi Covid-19

Ari Syahril Ramadhan Rabu, 07 April 2021 | 12:00 WIB

Kisah Getir Bisnis Kopi Luwak di Tengah Pandemi Covid-19
Sujud Pribadi, seorang pengusaha kopi luak di Lembang, Kabupaten Bandung Barat tengah menunjukan cara penyortiran biji kopi luwak. [Suara.com/Ferrye Bangkit Rizki]

Sebelum pandemi Covid-19, bisnis kopi luwak bisa mendatangkan omzet hingga Rp 60 juta per bulan. Kini ia hanya mendapat omzet Rp 1-2 juta per bulan.

SuaraJabar.id - Pandemi Covid-19 ini benar-benar menjadi mimpi buruk bagi Sujud Pribadi. Bisnis kulinernya termasuk bisnis kopi luwak, kini mendekati titik nadir.

Ia bahkan terpaksa harus menjual sejumlah aset hingga pinjam uang sana sini untuk mempertahankan usaha yang terletak di Jalan Raya Tangkuban Perahu, Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Padahal sebelum pandemi Covid-19 mewabah, usaha kopi luwak dan restorannya sangat diminati hingga memiliki omzet puluhan juta setiap bulannya.

"Tahun ini kalau gak ada solusi, kontrakan habis kayanya gulung tikar," ujar Sujud kepada Suara.com, Rabu (7/4/2021).

Baca Juga: Pemerintah Arab Saudi Bakal Berikan Kuota Tambahan Haji untuk Indonesia

Singkat cerita, bisnis kopi luwak mulai dirintis Sujud tahun 2014. Saat itu dirinya melihat potensi yang cukup melimpah yang bisa dimanfaatkan dari kopi luwak liar.

Sujud menamai usahanya Kopi Luwak Sawarga, dengan membuat kedai sederhana. Usahanya semakin berkembang seiring meningkatnya pengunjung yang datang ke tempat usahanya.

Bukan hanya pengunjung dari dalam negeri, melainkan pelancong dari berbagai negara. Omzet yang dihasilkannya cukup dari usaha kopi luwak mencapai Rp 50-60 juta setiap bulannya.

Bukan sekedar menikmati rasa kopi luwaknya yang bermanfaat untuk kesehatan dan kecantikan, namun pengunjung juga bisa diajari langsung cara memproduksi kopi tersebut kalau itu.

Namun cerita manis itu mulai berganti dengan rasa pahit saat virus korona mewabah pada Maret 2020. Tanda-tanda bisnis Sujud mulai redup mulai terlihat saat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan.

Baca Juga: Aturan Salat Tarawih dan Ied di Jakarta, Kapasitas 50 persen

"Mulai Maret itu sudah keliatan turun, pas PSBB benar-benar langsung dratis penurunannya," ucap Sujud.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait