Dia juga menjelaskan, penanda tahun pendirian, yakni 1414 Masehi terpampang pada salah satu kayu di atap masjid. Hal tersebut menunjukkan, bahwa wilayah Bondan Kecamatan Sukagumiwang sudah menjadi pusat penyebaran ajaran Islam yang dilakukan oleh Syekh Datul Kahfi.
Berdasarkan adanya tanda tersebut, diperkirakan jika wilayah Bondan dulunya masih termasuk dalam kekuasaan Kerajaan Pakuan Pajajaran. Bahkan katanya, wilayah Bondan sempat menjadi tempat pertemuan antara Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang.
Dia juga menuturkan, jika kayu yang dipakai membangun Masjid Kuno Bondan diketahui sudah ada sekitar tahun 1300 Masehi. Hal tersebut disampaikannya berdasarkan sampel yang digunakan peneliti dalam menguji usia kayu.
"Kata beliau, bahkan tahun 1400-an itu masuk zamannya Syekh Alimudin, muridnya syekh Bayanillah atau Syekh Datul Kahfi, karena kayu pintu itu saat di uji laboratorium sudah ada sejak 1.300 Masehi," jelasnya.
Baca Juga:Ini Kisah Sultan Hadirin dan Masjid Wali Loram di Kabupaten Kudus
Dia juga mengemukakan, menurut cerita, pembangunan masjid tersebut diselesaikan dalam waktu semalam dan keesokan harinya. Kemudian, Syekh Datul Kahfi membuat bedug dari kayu Sidaguri yang bila ditabuh bisa terdengar hingga Cirebon.
Sampai sekarang masjid tersebut dinamai Masjid Darus Sajidin Bondan (Masjid Kuno Bondan) dan masih difungsikan, namun bedugnya telah hilang entah ke mana.
Sampai saat ini, masjid tersebut mengalami renovasi sebanyak tiga kali, yakni pada tahun 1965, 1979, dan 1992. Meski begitu, dia menyayangkan renovasi pada bagian depan atau teras masjid diubah total sehingga menghilangkan bentuk aslinya. Semula terasnya hanya kayu semua, kini menjadi bangunan tembok.
Kondisi tersebut mengakibatkan perbedaan yang jomplang pada masjid ini, karena pada bagian depannya merupakan bangunan baru dengan bahan dasar tembok beton, sementara bagian belakang atau utama masjid, semuanya terbuat dari kayu dan berbentuk panggung.
Meski begitu, dia mengatakan, jika Masjid Kuno Bondan sudah didaftarkan ke dalam salah satu cagar budaya nasional oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten, sebelum bangunan utama masjid keburu dibongkar. Tujuannya agar bentuknya tetap terjaga.
Baca Juga:Masjid di Kota Kendari Ini Mirip Masjid Al Aqsa Palestina
"Kalau saya tidak keburu mendaftarkan, bangunan lama masjid akan dibongkar," jelasnya.