alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sekolah Belajar Daring, Guru Honorer Banting Setir Jadi Pedagang Asongan

Ari Syahril Ramadhan Rabu, 18 Agustus 2021 | 17:24 WIB

Sekolah Belajar Daring, Guru Honorer Banting Setir Jadi Pedagang Asongan
Herman (41 tahun), guru honorer di salah satu sekolah dasar di Cibadak, Kabupaten Sukabumi, memilih banting setir menjadi pedagang asongan. [Sukabumiupdate.com]

Herman yang telah menjadi guru honorer sejak 2013 itu menyebut alasanya banting setir menjadi pedagang asongan adalah karena tidak ada lagi pekerjaan.

SuaraJabar.id - Kondisi pandemi Covid-19 memaksa pemerintah meniadakan kegiatan belajar mengajar tatap muka untuk mengurangi risiko penyebaran virus Corona.

Pemerintah kemudian menerapkan sistem belajar daring. Hanya beberapa sekolah yang tetap diizinkan menggelar belajar tatap muka. Misalnya SMK yang memerlukan kegiatan praktek yang mengharuskan siswanya datang ke sekolah.

Kondisi ini berimbas pada beberapa pihak. Salah satunya adalah Herman (41), guru honorer di salah satu sekolah dasar di Cibadak, Sukabumi.

Ia memilih banting setir menjadi pedagang asongan. Sejak awal pandemi tahun lalu, warga Kampung Kamandoran RT 01/10 Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak itu berjualan di wilayah Simpang Ratu, Kabupaten Sukabumi.

Baca Juga: Viral Video Pelajar SMA Berbuat Mesum Tersebar, Warga: Efek Gak Sekolah Jadi Salah Jalur!

Herman yang sebelumnya Guru honorer ekstrakurikuler pencak silat ini mengaku telah dibebastugaskan untuk sementara waktu karena kegiatan belajar mengajar di sekolahnya digelar secara dalam jaringan atau daring alias online.

Kondisi itu membuatnya sulit memperoleh penghasilan, meski sebelumnya masih mendapat honor setiap tiga bulan sekali.

"Tidak dapat honor (selama pembelajaran daring) karena setelah ada Covid-19 langgsung dicabut anggaran. Meski sempat tiga bulan sekali dapat anggaran honorer, tapi sudah tidak belanjut, lalu akhirnya ya berdagang asongan," kata dia, Rabu (18/8/2021).

Herman yang telah menjadi guru honorer sejak 2013 itu menyebut alasanya banting setir menjadi pedagang asongan adalah karena tidak ada lagi pekerjaan semenjak tidak mengajar.

Ia pun menjajakan permen jahe dengan penghasilan yang tak seberapa.

Baca Juga: Tidak Ada Sinyal Internet, Anak-anak Pulau di Kepri Kesulitan Belajar Daring

"Sehari paling dapat Rp 10 sampai Rp 20 ribu. Tapi kadang tidak laku. Cuma gimana lagi, mau minta ke siapa lagi, mau kerja pun lagi pandemi gini susah," tuturnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait