"Alasan tidak tahu itu alasan klise, kemudian dari masyarakatnya juga mencari celah, seperti ganjil genap dimulai Jumat, Sabtu, Minggu, ya sudah buru-buru (pergi) sebelum diterapkan," ujarnya.
Sementara itu, ejumlah warga menilai kebijakan ganjil genap yang diterapkan di lima tol di Kota Bandung tidaklah efektif menekan mobilitas di Kota Bandung.
Salah seorang pengendara, Ratna (25), ia merasa ganjil genap ini di tol Bandung hanya membuat keribetan lainnya, misalnya dampak dari sistem tersebut yakni terciptanya kemacetan yang panjang.
Baginya, penerapan ganjil genap ini bukanlah solusi yang tepat walau dalihya adalah demi menekan angka mobilitas supaya mengungari penyebaran Covid-19.
Baca Juga:Mal di Samarinda Ini Siap Terapkan Scan Barcode ke Pengunjung, Dengan Syarat...
"Kemarin (ganjil genap) di pusat Koita Bandung saja malah bikin ribet," ujarnya.
"Lebih baik penyekatan yang jelas-jelas mengurangi pengunjung yang keluar masuk Kota Bandung," tambahnya.
Senada dengan Ratna, Nurrani (26) menilai kebijakan ganjil genap di tol tidak efektif. Menurutnya, saat diberlakukan penyekatan di sejumlah ruas jalan di Bandung, pengendara masih rela cari jalan alternatif lain, meski jarak yang ditempuh cukup jauh.
"Apalagi ini cuma diberlakukan ganjil genap di gerbang tol (menuju Bandung)," kata Nurrani.
Baginya, ganjil genap di tol ini masih banyak celah lain yang bisa dimanfaatkan oleh para pengendara, seperti pengendara mempunyai dua mobil yang masing-masing dengan plat ganjil dan genap, sehingga bisa lolos dari pemeriksaan petugas.
Baca Juga:Ditlantas Polda Metro Jaya: Angka Pelanggar Ganjil Genap Jalan HR Rasuna Said Menurun
"Terus penjagaannya juga kurang begitu ketat," ujarnya.