Hingga pada akhirnya pada masa pemerintahan RAA Martanegara, tepatnya pada 21 Februari 1960, ibu kota Kabupaten Bandung beralih statusnya menjadi Kotamadya atau memiliki pemerintahan sendiri.
Pada masa kepimipinan Kolonel R.H. Lily Sumantri, terdapat rencana pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung ke wilayah hukum Kabupaten Hukum, yakni berada di daerah Baleendah.
Namun rencana itu tidak berhasil karena Baleendah tidak memungkinkan dijadikan ibu kota lantaran kondisi fisik dan geografis. Kemudian pada pemerintahan Kolonel HD Cherman Affendi, ibu kota Kabupaten Bandung dipindah ke Kecamatan Soreang. Kini Soreang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bandung.
Sejarah perjuangan
Baca Juga:Viral Warganet Makan Seblak Pakai Cara Nyeleneh, Publik: Nggak di Wajan Sekalian?
Perjuangan para pahlawan di Kabupaten Bandung ditandai dengan adanya Tugu Juang Siliwangi Baleendah. Dalam penjajahan Belanda di Indonesia, warga Bandung terlibat dalam peralawanan atau peperangan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
Perlawanan di Bandung dimulai sejak abad ke-17. Perlawanan saat itu dipimpin oleh Tatar Ukur Adipati Wangsanatakusumah atau populer dengan sebutan Dipati Ukur. Ia memberontak terhadap benteng pertahanan VOC di Batavia.
Bahkan Dipati Ukur juga berhasil menewaskan komandan VOC. Akibatnya terjadilah peperangan besar antara pahlawan Indonesia dengan penjajah.
Berdasarkan berbagai literatur yang ada, para pejuang di Jawa Barat pada zaman dahulu menggunakan sejumlah senjata khas Sunda. Adapaun senjata tradisional Jawa Barat yakni:
Kujang, arit, gacok, congkrang, balincong, bedog, baliung, sulimat, bajra, patik, ani-ani dan lain-lain.
Baca Juga:Usulan Kenaikan UMK KBB Tertinggi di Jabar, Hengky Kurniawan Siap Disanksi
Geografi