Ancam Aksi Lagi
Mahasiswa sebetulnya berharap Rektor Unpas bisa lebih jauh mengambil sikap. Rektor harusnya secara tegas memperjuangkan pemotongan uang kuliah agar disetujui pihak yayasan.
"Rektor itu kan pimpinan tertinggi di Unpas," kata Irwan hendrawan, Ketua Umum Badan eksekutif Mahasiswa FKIP Unpas.
Terkait relaksasi penundaan pembayaran dan pemberian uang pulsa Rp 300 ribu, mahasiswa mengakui bahwa itu memang diberikan pihak kampus. Tapi kebijakan itu dinilai tidak solutif. Penundaan pembayaran dianggap hanya berarti menumpuk masalah. Karena itu, mereka mendesak adanya pemotongan biaya kuliah.
Baca Juga:Membingkai Seni Foto Anak Muda di Artsay Jogja, Berekspresi Lewat Jepretan Kamera di Tengah Covid-19
"Misalnya, kita tidak bayar di semester genap, tapi di akhir semester saat mau UAS kita tetap harus bayar. Dan bayarannya pasti kumulatif kan. Lebih besar. Kalau ekonomi secara umum menurun, dan orang tua mahasiswa tidak mampu bayar tentu saja itu hanya menumpuk beban mereka di akhir waktu," Sakti menambahkan.
"Lagi pula kami juga ada itung-itungannya (soal pemotongan), makanya itu termuat di naskah akademik kami," katanya lagi.
Gifary Adzani Akbar, Presiden BEM FISIP Unpas menegaskan, jika dalam sepekan ke depan tak ada tindak lanjut dari pihak kampus atau harapan mereka tak terpenuhi, mahasiswa disebut siap berdemonstrasi kembali.
"Akan terus mengawal tuntutan sampai terealisasi kalau tuntutan tidak digubris sampai pekan depan akan turun kembali dengan massa lebih banyak," tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, aksi demonstrasi tersebut mengatasnamakan Mahasiswa Unpas Menggugat. Menurut pihak mahasiswa, ada sekitar 300 orang yang yang turut serta, berasal dari beragam jurusan.
Baca Juga:Perawat Punya Peran Besar dalam Merubah Pandemi COVID-19 Jadi Endemi
Aksi dimulai sekira pukul 15.00 WIB. Massa yang mengenakan almamater berwarna hijau itu mulanya berkumpul di kawasan Taman Radio, jalan Ir. H. Juanda, lalu serentak ke titik aksi di depan gedung rektorat kampus II Unpas.