"Ini bisa terjadi tak hanya di Inaba, ke depannya siapa yang bisa menjamin kita bisa bebas bersuara?," katanya.
Dalam kasus ini, Fauzi juga beranggapan ada semacam politik ketakutan yang coba dipraktikan di kampus. Melalui Ari, ketakutan itu disebar dengan harapan mahasiswa Inaba lain urung berjuang.
"Untuk membungkam suara tidak perlu semuanya dibungkam, cukup satu orang yang dijadikan percontohan, entah itu pemimpin gerakan atau yang paling vokal. Untuk memberikan satu statemen bahwa jika kalian tetap vokal, kalau tetap bersuara, tetap bergerak, maka kalian akan seperti ini," katanya.
"Ketika Ari di drop out tentunya ada semacam tekanan juga kepada teman-teman di Inaba bahwa kalian vokal, kalian berani, bisa saja berakhir seperti Ari," katanya lagi.
Baca Juga:Miris! Pemuda di Bandung Barat Dibacok Hanya Gara-gara Bonceng Pacar Pelaku
Kontributor : M Dikdik RA