Paphiopedilum Memoria Jakob Oetama merupakan hasil persilangan Paphiopedilum praestans dari Papua dan Paphiopedilum victoria-regina dari Sumatera.
Kedua spesies endemik dari ujung timur dan barat Nusantara itu melahirkan silangan primer yang sarat makna persatuan.
Secara morfologi, hibrida ini menghasilkan bunga bertipe “slipper” dengan kantong penuh, sepal dorsal lebar bergaris dari indukan praestans, serta sifat multifloral dari victoria-regina yang memungkinkan tumbuh lebih dari satu kuntum per tangkai.
Dari sisi genetik, komposisinya terdiri atas 50 persen kelompok glanduliferum/praestans dan 50 persen chamberlainianum/victoria-regina.
Baca Juga:5 Fakta Penting Anjloknya KA Argo Bromo Anggrek di Subang, Puluhan Jadwal Kacau
Perpaduan itu menjadikan hibrida ini unik sekaligus menambah deretan flora bernilai tinggi asal Indonesia yang mendapat pengakuan internasional.
Jakob Oetama sendiri dikenal sebagai jurnalis yang menekankan nilai kemanusiaan dan kebangsaan dalam pers Indonesia.
Bersama P.K. Ojong, ia mendirikan Kompas Gramedia sejak 1963 melalui majalah Intisari, lalu melahirkan harian Kompas pada 1965 yang menjadi salah satu koran nasional berpengaruh.
Sepanjang hidupnya, Jakob memimpin Kompas Gramedia hingga menjabat Presiden Komisaris pada 2006–2020. Ia juga pernah menjadi Sekretaris Jenderal PWI Pusat, anggota DPR, serta anggota MPR.
Atas dedikasinya, ia menerima penghargaan Bintang Mahaputera pada 1973 dan gelar doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada (2003) serta Universitas Sebelas Maret (2014).
Baca Juga:KA Argo Bromo Anggrek Anjlok di Subang: Evakuasi Rampung, 9 KA Tertahan dan 43 Lainnya Memutar Arah
Jakob Oetama wafat pada 9 September 2020 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Kini, namanya kembali dikenang melalui kehadiran anggrek hibrida di Kebun Raya Bogor yang merepresentasikan semangat persatuan Nusantara.